Malang Raya
Mengaku Daging Sapi, Pasutri Ini Jual Daging Celeng di Pasar Selama 2 Tahun
Para pembeli daging celeng mudah percaya dengan pengakuan tersebut karena lampu penerangan bedak penjualan remang, dan hanya menjual hingga subuh.
SURYAMALANG.COM, KLOJEN – Polresta Malang menangkap pasangan suami istri, SKT (49) dan BN (47), warga Jalan Kolonel Sugiono Gg VII, Malang, karena menjual daging sapi yang bercampur daging babi hutan (celeng) di Pasar Kedungkandang.
Aksi ini sudah berlangsung selama dua tahun terakhir ini.
Kapolresta Malang AKBP Singgamata mengatakan dua pelaku ini ditangkap Senin (15/6/2015), sekitar pukul 03.00.
Penangkapan berawal dari informasi warga yang resah karena daging celeng dijual oleh mereka.
Polisi lantas mendatangi lapak penjualan SKT dan BN di areal penjualan daging pasar tersebut, dengan berpura-pura sebagai. Polisi yang menyamar tadi juga membeli satu kilogram daging dari pasangan suami istri ini.
“Kepada kami, tersangka mengaku menjual daging sapi. Pengakuan seperti ini juga disampaikan ke pembeli yang lain,” tambah Singgamata.
Untuk memastikan daging tersebut adalah daging celeng, polisi meminta bantuan tim forensik . Hasilnya, daging tersebut dipastikan daging celeng. Selanjutnya, polisi mendatangi lagi bedak penjualan SKT dan BN lalu menangkapnya.
Dalam penangkapan itu, polisi juga menyita 58 kilogram daging celeng beku dari mereka. Puluhan kilogram daging celeng, kata SInggamata disita dari dua tempat, yaitu di bedak tersangka di Pasar Kedungkandang dan rumah tersangka
Dalam pemeriksaan, SKT mengaku sudah dua tahun melakukan aksi tersebut.
“Motifnya untuk mendapatkan keuntungan yang besar,” imbuh AKP Adam Purbantoro, Kasat Reskrim Polresta Malang.
Adam memaparkan daging sapi tersebut semula dibeli dari distributor daging celeng di Kabupaten Malang. Harga pembelian daging celeng per kilogram Rp 42.000.
"Kepada masyarakat daging celeng yang mereka beli dari kabupaten lalu dijual Rp 70.000,” paparnya.
Menurut Adam, para pembeli daging celeng pasutri ini mudah percaya dengan pengakuan tersebut karena lampu penerangan bedak penjualan remang, dan hanya menjual hingga subuh.
“Tersangka ini menjualnya dari jam satu hingga jam lima setiap hari,” tambahnya.
Selain itu, pembeli juga tak paham dengan struktur dan warna daging babi yang lebih cerah dan lebih padat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/ilustrasi-daging_20150517_091316.jpg)