Malang Raya
Hebat, Calon Dokter Ini Sukses Buat Benang Jahit Operasi dari Getah Jarak
Getah jarak ini diambil dengan menyayat kulit batang. Untuk benang sepanjang 70 sentimeter dibutuhkan sekitar 2 milimeter getah jarak.
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Berinovasi dengan tanaman herbal merupakan kegemaran tersendiri bagi Siti Nurjannah (22). Mahasiswa kedokteran hewan Universitas Brawijaya (UB) ini sudah dua kali mengajukan proposal kreativitas mahasiswa dan berdasil didanai.
Pada 2014, Jannah- panggilan akrab Siti Nurjannah- mulai berinovasi dengan dua teman satu jurusan, Andri Julianto (22) dan Yumeida Noor Ilma (22) dengan mencari formulasi untuk benang jahit operasi.
Hal ini bermula saat Jannah melakukan praktik pembedahan perut kucing dan menjahitnya kembali menggunakan benang jahit yang berbahan usus hewan.
“Entah saya yang kurang steril atau kandungan dari usus itu tidak sesuai dengan kulit kucing, akhirnya bekas jahitan bengkak dan terbuka kembali,” terangnya.
Untuk itu, mereka berkonsultasi dengan dosen untuk mencari alternatif benang operasi yang lain. Dan ternyata benang jahit yang tidak menimbulkan peradangan bisa didapat dengan impor.
Benang jahit itu merupakan benang jahit sintetis yang harga 1 paket Rp 2 juta. Satu paket ini berisi 10 benang masing-masing sepanjang 70 sentimeter. Untuk itu mereka berupaya berinovasi untuk mendapatkan benang yang aman dan murah.
“Kami mengadaptasi hasil penelitian di Unair (Universitas Airlangga), untuk membuat benang operasi yang tidak menimulkan peradangan,” jelas Jannah.
Namun, ternyata komposisi pembuatan benang itu menggunakan gli poli acid (GPA) yang harus diimpor dari Jerman. Untuk itu merekan merumuskan komposisi baru dengan perpaduan bahan getah jarak.
Getah jarak ini mereka gunakan dengan berkonsultasi dengan Balittas (Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat) untuk penentuan jenis jarak yang bisa dipakai sebagai benang.
Warga sekitar Balittas ternyata kerap mengoleskan getah jarak yang diambil dari memetahkan tangkai jarak untuk menutup luka gores. Luka gores ringan, secara normal akan tertutup setelah 3 sampai 7 hari, tetapi dengan dioleskan getah jarak, dalam dua hari luka dapat tertutup.
“Disana ada pengembangan jarak, karena ada berbagai macam jarak jadi kami menganalisa kandungannya,” terangnya.
Getah jarak ini diambil dengan menyayat kulit batang. Untuk benang sepanjang 70 sentimeter dibutuhkan sekitar 2 milimeter getah jarak. Getah ini kemudian dicampur dengan polivinil alkohol, asam glikolat, aquades, dan asam sitrat dicampur lalu diaduk hingga homogen dalam agnetic stirrer sekitar 30 menit dengan suhu 70oC.
“Awalnya kami masih menggunakan plastik sebagai cetakannya, jadi adonan kami masukkan jarum suntik, dan kami goreskan di atas mika,” terangnya.
Kemudian mereka harus menunggu 24 jam untuk benang siap diambil. Tetapi dalam formulasi awal berbagai kegagalan mereka alami. Mulai dari benang yang terlalu lembek seperti permen jelly samapai adonan keras.
“Adonannya keras sampai tidak bisa keluar dari jarum suntik, di percobaan kelima kami baru menemukan formulasi yang pas,” jelasnya.
Untuk menyempurnakan benang yang sesuai dengan standart benang operasi. Mereka membuat cetakan dari aluminium dibantu anggota kelompok lain, yaitu Ahmad Aufal Marom (20) dari Teknik Industri dan Mohamad Rifan (20) dari Fakultas Hukum membantu untuk desain kemasan yang diajukan saat monitoring dan evaluasi (monev) hasil produk mereka.
“Cetakan kami hanya mampu membuat sampai ukuran 0,2 milimeter, ukuran ini cocok untuk benang bagian kulit. Kalau untuk ukuran kecil lagi kami harus membawanya ke pabrik tekstil di Bandung,” terangnya
Benag ini telah mereka uji dengan uji tarik sebesar 8 Newton, hal ini lebih kuat dari benang benang komersil yang uji tariknya sebesar 5,2 Newton. Hasil dari uji FT-IR menunjukkan gugus fungsi karbonil, gugus alkana, dan gugus hidroksil sehingga mempunyai sifat mudah terbiodegradasi.
Ini artinya benang dapat terdegradasi dalam tubuh dan menghasilkan produk akhir yang tidak beracun. Adapun untuk uji kelarutan, sampel dapat larut sempurna dalam PBS setelah 12 hari. Bahan ini akan terus dirancang memenuhi syarat sifat fisik sesuai SNI 16-3346-1994 tentang “Benang Operasi Terserap Sekali Pakai” dan USP 29-NF 24 tentang standar produk benang.
Jannah menerangkan, biaya pokok produksi untuk seutas benang berukuran 70 cm hanya sekitar Rp. 10.000. Harga ini tentu lebih murah dibandingkan benang impor yang harganya 200.000 per 70 cm.
Ia menambahkan benang getah jarak ini masih harus melalui beberapa proses penyempurnaan dan pengujian.
“Kami akan melakukan uji daya simpan atau kadaluarsa dan uji reaksi jaringan” terangnya.
Ia berharap kedepan Indonesia tak perlu impor benang jahit operasi lagi
Selain itu, saat ini mereka sedang berupaya mengambil izin untuk melakukan percobaan pada tikus. Namun, sebelumnya mereka akan mengubah proses sterilisasi benang yang awalnya menggunakan ozon3 menjadi pensterilan menggunakan golongan alcohol.
“Kami memilih tikus karena ukurannya lebih besar dari mencit dan sesuai dengan diameter benang,” ungkapnya.
(Sulvi Sofiana)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/benang-operasi_20150619_205039.jpg)