Minggu, 12 April 2026

Surabaya

Awas, Ternyata Takjil di Masjid Agung Surabaya Mengandung Boraks

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) menemukan kandungan boraks pada jajan takjil yang dijual di kawasan Masjid Al-Akbar Surabaya.

Editor: fatkhulalami
Surya/Ahmad Zaimul Haq
Petugas Balai Besar Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Dinas kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya menguji sampling makanan yang dijual pedagang di bazar Ramadan di kawasan Masjid Al Akbar Sirabaya, Senin (22/6/2015). 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Takjil dan jajanan yang dijual bebas menjelang magrib pada bulan puasa tak sepenuhnya aman.

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) menemukan kandungan boraks pada jajan takjil yang dijual di kawasan Masjid Al-Akbar Surabaya, Senin (22/6/2015).‬

Di kawasan ini memang setiap tahun digelar ratusan aneka takjil. Mulai jajan basah, mi, tahu, bakso, sampai camilan dan jajan ringan dalam kemasan. Saat tim dari BBPOM dan Dinkes Kota Surabaya mengecek kandungan takjil tersebut, ditemukan krupuk puli (ketan) mengandung boraks.

"Hasil sementara yang tengah kami proses, salah satu kerupuk puli positif mengandung boraks. Kami juga mencurigai jajanan lain. Semua masih kami cek di Lab mobil ini," kata Hariani, salah satu petugas lab BBPOM.

Untuk kepentingan cek kandungan bahan makanan untuk takjil itu, BBPOM membawa mobil Lab khusus. "Kami melihat ada perubahan warna pada kerupuk puli setelah uji lab. Tanda lainnya, ada rasa gurih yang renyah namun ada getirnya," tambah Hariani.

Boraks adalah senyawa kimia yang biasa digunakan untuk pengawet. Selain mengandung boraks, petugas masih mencurigai sejumlah makanan. Mereka konsentrasi pada kandungan bahan berbahaya macam formalin, rodamin B (pewarna tekstil), metanil yellow (pewarna), dan bahan berbahaya lainnnya.

Biasanya, bahan-bahan berbahaya itu dicampur ke makanan untuk memberi masa awet, menambah kenyal, atau mempercantik jajanan. Efeknya memang tak langsung.

Bahan ini akan terakmulasi dalam tubuh. Dalam waktu lama dengan konsumsi tertentu bisa mengakibatkan kanker hati, ginjal, hingga saluran getah bening.

"Kami sangat mengimbau kepada masyarakat untuk hati-hati. Para penjual pun harus memperhatikan aspek kesehatan. Jangan hanya ingin mengejar untung," kata Kepala BBPOM Jatim I Gusti Ngurah Bagus Kusuma Dewa.

Balai POM ini memberikan isyarat kepada masyarakat untuk lebih hati-hati dengan makanan dan jajanan dengan warna mencolok dan ngejreng. Misalnya makanan jenis mi, hindari warna mi mengkilap dan tak mudah putus. Tahu misalnya, juga hindari tahu yang terlalu kenyal dan tak mudah hancur.

Selain itu, bau dan aroma menyengat pada makanan juga harus diwaspadai. Biasanya, semua makanan dan berbagai jenis takjil dijual bebas saat menjelang magrib. BBPOM melakuka intensifikasi pengawasan peredaran makanan-makanan tersebut.

Retno Chatulistiani, Kabid Sertitifikasi dan Layanan Informasi Konsumen BBPOM menuturkan bahwa yang paling berpotensi untuk kandungan bahan berbahaya pada makanan adalah jajan di sekolah. Selain itu saat takjil.

"Fokus kami adalah mengawasi pangan tanpa izin edar. Saat puasa begini, banyak yang mengonsumsi jajan. Ini berpotensi dan risiko lebih tinggi karena jajanan membanjir," kata Retno.

Selain jajan takjil, produk kemasan juga diperhatikan. Misalnya, produk rusak, kemsan bocor, kadaluwarsa atau masa lewat masih disimpan dan dipajang. "Dari tahun ke tahun, kami memang kerap menemukan kandungan berbahaya sekitar 10 persen," terang Bisukma Kurniawati
Kabid Jaminan dan Sarana Kesehatan Dinkes Kota Surabaya.

BBPOM dan Dinkes memang sengaja mencermati pangan siap saji untuk takjil. Selain di sentra takjil masjid akbar juga digelar sidak dan cek kandungan bahan makanan berbahaya yang sama di Masjid Ampel Surabaya.
Namun, petugas tak akan merunut lebih jauh jika ditemukan jajan berbahaya.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved