Rabu, 8 April 2026

Sidoarjo

Terduga Pencabul Anak SD Diperiksa Pakai Alat Deteksi Kebohongan

Alat ini dipakai untuk menguji kebenaran dari pengakuan para saksi dan terlapor yang sudah di-BAP.

Penulis: Miftah Faridl | Editor: musahadah

SURYAMALANG.COM, SIDOARJO - Penyidik Satreskrim Polres Sidoarjo akan memanfaatkan alat pendeteksi kebohongan (lie detector) untuk mendalami pengakuan dari M, terlapor kasus dugaan pencabulan beberapa siswa di SD Angugerah School.

Penggunaan alat ini, kata Kasat Reskrim AKP Ayup Diponegro, untuk menkonfrontasi pemeriksaan sebelumnya. "Kami ingin penyidikan ini kuat dengan mengedepankan scientific investigation," ujarnya, Kamis (30/7).

Alat ini dipakai untuk menguji kebenaran dari pengakuan para saksi dan terlapor yang sudah di-BAP.

Ayup mengatakan, pemeriksaan lie detector digelar setelah penyidik mendapatkan hasil tes psikologi.

Tes itu sendiri dilakukan oleh tim dokter RS Bhayangkara Polda Jatim beberapa waktu lalu. Dokter memeriksa psikologi korban, saksi dan M, sebagai saksi terlapor. Di sekolah itu, M adalah pengawas kebersihan.

Pemanfaatkan lie detector dalam kasus asusila dan kriminal yang bersangkutan dengan anak-anak bukan barang baru. Polda Bali, misalnya. Berhasil mengungkap kasus pembunuhan bocah 8 tahun, Angeline.

Berkat lie detector, polisi menemukan benang merah pembunuhan bocah SD itu melibatkan Margriet Megawe, ibu angkat Angeline. Selain janda dua anak itu, polisi juga memeriksa kejujuran tersangka lain, Agustinus.

"Tidak ada maksud apa-apa kecuali menguatkan penyidikan ini. Pendekatan scientific investigation kami pakai. Jadi mulai dari pengakuan sampai alat bukti, kami uji dengan pendekatan ini," kata Ayup.

Sebelumnya, Polda Jatim turun tangan dalam mengungkap kasus dugaan pencabulan pelajar SD Anugerah School. Polda menurunkan tim laboratorium forensik (labfor) untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) ulang.

Pencabulan ini diduga sudah lama terjadi. Korban diperkirakan berjumlah lebih dari dua orang.

Akibat aksi cabul M ini, satu orang siswa di sekolah itu stres dan meminta pindah sekolah. Korban bukan hanya laki-laki, namun juga perempuan. Mereka dicabuli saat hendak ke toilet dan wastafel sekolah.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved