Malang Raya
Hati-hati! Ternyata Korban dan Pelaku Pencabulan Makin Belia
Ini dipicu karena mereka melihat gambar porno. Selanjunya, mereka menirukannya ke teman sebaya mereka. "Anak-anak ada peniru paling baik,"
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Korban dan pelaku pencabulan makin belia. Jika tujuh tahun lalu mengenai anak-anak SMP dan SMA, sekarang bergeser ke anak-anak SD.
"Kasusnya tak hanya pencabulan, tapi hingga persetubuhan," ungkap Winny Isnaini, Wakil Ketua LPA (Lembaga Perlindungan Anak) Jawa Timur kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (27/8/2015).
Hal itu disampaikan usai mengisi kegiatan "Pemantapan Sekolah Ramah Anak Bagi Lembaga MI" di Pendopo Agung Kabupaten Malang.
Katanya, yang kena selain siswa SD/MI, ada juga pelaku yang keroyokan dua sampai tiga orang.
Hal ini dipicu karena mereka melihat gambar porno. Selanjunya, mereka menirukannya ke teman sebaya mereka.
"Anak-anak ada peniru paling baik," ungkap Winny.
Katanya, ketika sekolah, orangtua sudah menemukan ada gambar porno, harus segera ditindaki. Bagaimana jika korban dan pelakunya anak SMP dan SMA? Umumnya karena mereka pacaran dan biasanya ada "ancaman" seperti diputus atau tidak dipacari lagi.
"Akhirnya, diapa-apain pacarnya mau aja," kata dia.
Sedang jika pelakunya orang lain, biasanya karena pertemanan di media sosial (medsos). Kadang kenal sehari sudah sangat percaya dan akhirnya terjadi kasus asusila.
Dari pantauan LPA, para korban, pelaku biasanya dengan latar belakang dari keluarga broken home.
"Proteksi terbaik ya pada penguatan ketahanan keluarga. Jadi ortu itu tidak sekedarnya sehingga anak jadi korban," ungkap Winny.
Ia melihat pentingnya konselor atan BK (Bimbingan Konseling) di sekolah-sekolah. Terutama pada wilayah yang beresiko, terutama di daerah-daerah kantong TKI, seperti Kabupaten Malang. Wilayah kantong TKI misalkan di kawasan Malang selatan.
Cuma kendalanya, guru BK sering tidak ada. Akhirnya diisi guru dari mapel lainnya yang tidak linier. Tujuannya agar jam mengajar guru untuk mendapat sertifikasi terpenuhi.
Kecuali guru itu mau belajar pengetahuan itu.
"Ada guru BK misalkan diisi guru matematika. Akhirnya ketika ada masalah, assesmentnya tidak melihat latar belakang untuk mencari solusinya. Saya gak bisa menyalahkan karena latar belakangnya ilmu lain," ungkapnya.
Katanya, guru BK tak hanya jarang ditemui di level sekolah dasar, tapi juga jenjang pendidikan di atasnya.
"Padahal anak-anak SD itu sudah butuh tempat curhat," ungkap dia.
Pemerintah sendiri tidak bisa memberi sanksi jika sekolah tidak memiliki guru BK. Sehingga tergantung dari sekolah itu sendiri.
Meski belum ada guru BK, ia mengapresiasi sekolah yang gurunya mau aktif mengajari anaknya melaporkan jika terjadi sesuatu. Dengan begitu, bisa segera ditindaklanjuti.
"Onok opo-opo matur, berani lapor. Guru mengajari aktif ke anak," kata aktivis anak itu.
Dari penemuan LPA Jatim, pada kasus-kasus yang mengenai anak-anak, ternyata bisa digali dari pengakuan anak-anak itu sendiri. Ia menyebutkan kasus di daerah tampal kuda.
"Anak-anak ternyata tahu dukun yang membantu menggugurkan," jelasnya.
Katanya, kasus asusila juga mengenai anak-anak baik yang kurang banyak mengerti dan tidak ada arahan orangtua.
Bahkan mereka tak jarang aktifis di sekolah atau kampus. Dari jadi korban, mereka kemudian bisa menjadi pelaku sehingga punya sex addicted. Sayang, yang seperti itu penanganannya belum terjangkau dan belum ada bantuan pemerintah.
"Negara belum sadar menyembuhkan. Belum tahu siapa yang merehabilitasi mereka," ungkapnya.
Saat ini, konsen pemerintah masih pada penanganan rehabilitasi korban narkoba.
"Semoga segera ada yang menangani. Entah dimulai oleh siapa," pungkasnya.