Rabu, 15 April 2026

Blitar

Demi Air, Ribuan Warga Blitar Rela Jalan Kaki Sejauh 2 Km di Bukit

Begitu berada di sumber air, warga pun tak bisa langsung mengambil airnya, melainkan harus bergiliran. Sebab, tempatnya sangat kecil.

Penulis: Imam Taufiq | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM/Imam Taufiq
Warga Desa Ngerendeng, Kecamatan Selorejo, Kab Blitar mengambil air ke belik. Mereka harus berjalan kaki sejauh 2 km, dengan naik turun perbukitan. 

SURYAMALANG.COM, BLITAR - Tiap musim kemarau panjang, membuat susah warga di Kabupaten Blitar. Seperti, di Dusun Cungkup, Desa Ngerendeng, Kecamatan Selorejo, warganya jarang mandi karena kesulitan air bersih.

Satu-satunya sumber mata air yang masih keluar airnya berada di belik, tepatnya di tengah sawah. Namun, untuk menjangkau ke lokasi belik air itu tak mudah. Jaraknya dari perkampungan sekitar 2 km dan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki karena medan yang cukup sulit. Yakni, jalannya setapak dan naik turun perbukitan.

Begitu berada di sumber air, warga pun tak bisa langsung mengambil airnya, melainkan harus bergiliran. Sebab, tempatnya sangat kecil, sementara warga yang membutuhkan air cukup banyak.

"Nggak ada air, ya susah. Namun, begitu dapat air, ya susah karena membawanya cukup jauh, apalagi harus berjalan kaki karena jalannya tak bisa dilalui sepeda motor," papar Santoso (32), warga Dusun Cungkup, Desa Ngerendeng, Minggu (27/9/2015) siang.

Menurutnya, setiap musim kemarau seperti ini, dirinya jarang mandi karena tak ada air. Sebab, yang diutamakannya adalah air buat minum dan memasak. Kadang buat mencuci saja, tak ada.

"Sudah biasa nggak mandi. Sebab, kalau mandi siang hari, di belik itu sepertinya tak mungkin. Selain tak ada penutupnya, banyak orang yang mengantre mengambil air. Ya, terpaksa, kandang saya nggak mandi sampai berhari-hari, asal bisa minum saja," paparnya.

Sutejo (48), ketua RT 3/RW 4, Dusun Cungkup, mengatakan, sebenarnya di dusunnya itu ada sumber air bantuan dari pemerintah. Namun, bila musim kemarau seperti ini, airnya sudah tak mencukupi. Akhirnya, warga tiap RT dijatah secara bergilir.

Yakni, dalam seminggu hanya tiga kali. Itu pun, hanya mengalirnya malam hari. Namun, sering kali pada gilirannya, airnya malah tak mengalir karena banyaknya pemakai. Terutama, warga yang rumahnya berada di dataran tinggi, dipastikan tak bakalan mendapatkan jatah air.

"Akhirnya, warga terpaksa mengambil air ke belik," paparnya.

Ahmad Basori, Kades Ngerendeng, mengatakan, hampir semua warganya yang berjumlah 2.340 kepala keluarga (KK) mengalami kekurangan air pada musim kemarau seperti ini. Untuk mengatasinya, warga kebanyakan mengambil air ke belik.

"Rencananya, kami akan mengajukan bantuan pipanisasi ke pemkab, agar warganya tak jadi langganan kesulitan air tiap musim kemarau," pungkasnya.

Heru Irawan, Kepala BPBD Kabupaten Blitar mengatakan, selama musim kemarau ini pihaknya sudah membantu banyak desa yang kekurangan air. Khususnya di Blitar selatan, seperti di Kecamatan Wonotirto, Bakung, dan Panggungrejo.

"Namun, untuk desa yang masih ada sumber mata airnya, kami belum bisa membantu. Sebab, yang kami utamakan, mereka yang benar-benar kekurangan air," ujarnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved