Mojokerto
Anak-anak SMA Mojokerto Bersujud di Hadapan Polisi, Inilah Yang Terjadi
..siswa yang mengendarai motor kebanyakan melanggar rambu lalu lintas dan yang paling banyak adalah markah jalan.
Penulis: Anas Miftakhudin | Editor: Aji Bramastra
SURYAMALANG.COM, MOJOKERTO - Angka kecelakaan di jalan raya yang dialami pelajar SMP dan SMA sederajat di Kabupaten Mojokerto cukup tinggi.
Selama Januari hingga September 2015 ada 80 kasus kecelakaan hingga menyebabkan 20 siswa meninggal dunia.
Angka kecelakaan 2015 ini dibanding dengan tahun 2014 dalam kurun waktu yang sama (Januari-September) mengalami peningkatan sekitar 50,9 persen.
Peningkatan ini akibat siswa yang mengendarai motor kebanyakan melanggar rambu lalu lintas dan yang paling banyak adalah markah jalan.
Sesuai catatan di Satlantas Polres Mojokerto, pelajar yang terlibat Laka Lantas periode Januari-September 2014 terjadi 53 kasus dan siswa yang meninggal dunia 15 siswa.
Sementara siswa yang mengalami luka berat 1 orang dan luka ringan 54 siswa. Di tahun 2015, siswa yang terlibat kecelakaan ada 80 kasus, meninggal dunia 22 siswa, luka ringan 104 siswa dan luka berat 1 siswa.
Meningkatnya angka kecelakaan terhadap siswa, guru sekolah meminta kepada Satlantas Polres Mojokerto untuk membina mereka agar tertib. Pembinaan ini juga dimaksudkan sebagai pelopor siswa di sekolahnya.
"Intinya, mereka yang sudah dikader bisa mengingatkan teman-temannya di sekolah. Utamanya mereka sendiri tertib di jalan," tutur Kasat Lantas Polres Mojokerto AKP Asep Kurnia, Rabu (7/10/2015).
Jumlah siswa yang dibina sebagai kader pelopor keselamatan di jalan raya di Polres Mojokerto ada 100 siswa.
Mereka ini terdiri 25 siswa SMP dan 75 siswa SMA dari 17 sekolah di Kabupaten Mojokerto.
"Dari 100 siswa, ada yang sebagian mokong sehingga perlu pembinaan," terangnya.
Dalam pengkaderan ini, siswa diajarai cara baris berbaris yang baik. Di tengah terik matahari atau sekitar pukul 13.00 WIB, siswa digiring ke halaman depan Mapolres.
Mereka disuruh sujud di paving untuk merenungi kesalahan yang dilakukan selama ini. Baik itu kepada orangtua, guru atau teman di lingkungan sekitar.
Panasnya sengatan matahari, siswa yang semuanya mengenakan topi putih merubah posisi topi sitaruh di jidat.
"Ingat masa lalu kamu, silakan menangis sepuasnya. Curahkan air matamu. Minta maaf pada orangtuamu atas perbuatanmu selama ini," teriak instruktur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/sujud-sma-mojokerto_20151007_150027.jpg)