Kamis, 9 April 2026

Kediri

Perajin Barongan Kebanjiran Order di Bulan Suro, Mengapa ya?

Pelanggan itu dari grup jaranan asal Kabupaten Tulungagung, Nganjuk, Ponorogo dan Banyuwangi. Malahan ada grup jaranan dari Kalimantan juga memesan.

Penulis: Didik Mashudi | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM/Didik Mashudi
Sujali perajin barongan kebanjiran pesanan di bulan Suro, Jumat (16/10/2015). 

SURYAMALANG.COM, KEDIRI - Bulan Suro menjadi bulan berkah bagi perajin jaranan dan barongan di Kabupaten Kediri. Pada bulan Suro ini, banyak menerima order membuat jaranan dan barongan.

"Bulan Suro ini saya menerima lima pesanan barongan ukuran besar. Ada yang masih saya kerjakan, juga sudah ada yang telah selesai," ungkap Sujali (49), perajin barongan dari Desa Panjer, Kecamatan Plosoklaten kepada Surya, Jumat (16/10/2015).

Sujali mengaku, mulai menekuni sebagai perajin barongan dan jaranan sejak 2004. Semula hanya mendapatkan pesanan dari sejumlah grup jaranan di sekitar Kediri.

Namun, karena kualitas barongan buatannya yang bagus, akhirnya banyak mendapatkan pesanan dari berbagai daerah. Pelanggan itu dari grup jaranan asal Kabupaten Tulungagung, Nganjuk, Ponorogo dan Banyuwangi. Malahan ada grup jaranan dari Kalimantan juga memesan.

Barongan untuk ukuran sedang berikut asesorisnya biasa dijual seharga Rp 3 juta. Namun untuk ukuran besar dengan berat sekitar 20 kg harganya bisa mencapai Rp 5 - 6 juta.

Barongan buatan Sujali memanfaatkan kayu cangkring, selain bobotnya lebih ringan juga dapat tahan lama. Selain itu saat digerakkan untuk adegan caplokan bersuara lebih keras.

Sujali menyelesaikan pesanan membuat barongan bersama anak dan istrinya.

"Istri saya yang menjahit dan mengobras untuk kain pakaiannya," ungkapnya.

Sejauh ini peralatan yang dipakai juga masih manual. Dia berharap untuk menunjang usaha kerajinannya mendapat bantuan peralatan mesin jahit yang lebih bagus.

Selain menjadi perajin jaranan, Sujali juga menjadi pelatih untuk grup pemula jaranan pelajar. Salah satunya grup jaranan pelajar SMP Bhakti Nusa Plosoklaten.

Para pemain pemula jaranan itu tampak berlatih di halaman samping rumahnya yang tidak seberapa luas. Penabuh gamelannya ada di teras rumah.

"Setiap hari rumah saya selalu ramai karena untuk tempat latihan. Kami bersyukur masih banyak anak-anak muda yang senang dengan kesenian jaranan," ungkapnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved