Malang Raya

Sebab Anggaran Beasiswa 2016 Melorot Tajam

Anggaran pendidikan di APBN 2016 mengalami penurunan. Terutama anggaran buat beasiswa.

SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Ridwan Hisyam, Ketua Komisi X DPR RI membuka Festival Sugeng Purnama di halaman Pemkab Malang di Jl Agus Salim Kota Malang, Minggu (1/11/2015). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Anggaran pendidikan di APBN 2016 mengalami penurunan. Terutama anggaran buat beasiswa.

Hal ini karena pendapatan negara mengalami penurunan.

"Yang mendapat beasiswa 2015 masih gembira. Tapi pada 2016 nanti, banyak anggaran untuk beasiswa turun," ungkap Ridwan Hisyam, Wakil Ketua Komisi X DPR RI kepada SURYAMALANG.COM, Selasa (10/11/2015).

Politisi dari Partai Golkar ini memberikan contoh beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik) yang pada 2015 ada Rp 508 miliar menjadi Rp 210 miliar pada 2016. Sehingga ada penurunan Rp 298 miliar.

Begitu juga beasiswa SM3T, yaitu Sarjana Mengajar di daerah Terpencil, Terluar, Tertinggal. Yang semula pada 2015 disediakan Rp 395 miliar, pada 2016 menjadi Rp 295 miliar.

"Yang prihatin adalah beasiswa buat dosen untuk S2 dan S3. Kebanyakan mereka kuliah di luar negeri. Anggarannya semula Rp 1,6 triliun pada 2015 menjadi Rp 919 miliar," terangnya.

Sehingga ada penurunan Rp 700 miliar. Karena penurunan anggaran itu, maka dosen-dosen yang berada di luar negeri terancam balik kucing. Sebab biaya kuliah cukup besar.

"Semalam saya sudah dapat SMS dari dosen Universitas Negeri Malang (UM) yaitu Ibu Ani Suryani. Ia sekarang kuliah di Australia untuk ambil doktor," kata Ridwan.

Menurut penuturan dosen UM itu kepadanya, ia sudah mendapat surat dari Kementrian Ristikdikti bahwa beasiswaya diberhentikan.

"Padahal dia kurang dua sementer. Masak saya harus pulang? Masak saya cari sendiri?" Jelas Hisyam menceritakan mengenap nasib dosen UM itu.

Padahal Ani perlu menyelesaikan dua semester lagi agar bisa mendapatkan gelar doktornya. Sedang biaya per semester mencapai Rp 100 juta.

Jika terpaksa pulang, ungkap Ridwan, dosen pun kesulitan mendapatkan uang untuk menuntaskan kuliah S3-nya.

Dijelaskan Ridwan, anggaran Kemenristekdikti pada 2016 sebesar Rp 40,627 triliun. Angka itu turun dari anggaran 2015 sebesar Rp 43,727 triliun. Sehingga ada penurunan Rp 3,1 triliun.

"Negara sedang tidak punya duit. Apalagi dari pendapatan juga turun, seperti dari harga minyak, depresiasi rupiah karena dolar naik dan dari sektor pajak," katanya.

Namun komisinya akan berjuang ke pemerintah, presiden, menteri keuangan dan kepala Bappenas agar anggaran 20 persen untuk pendidikan bisa terealisasi sesuai amanat UUD 45 dan UU Sisdiknas.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved