Rabu, 15 April 2026

Malang Raya

Berbagi Cerita di UB Malang: Kenangan Indah Mengajar di Daerah Pedalaman

"Saya mendapat tugas mengajar di daerah pegunungan di Lebak, Banten, Jawa Barat,"

SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Wahyu Nur Hidayat, alumnus Indonesia Mengajar saat tampil di rangkaian acara BHP (Brawijaya Human Prize) di Widyaloka UB Malang, Jumat (13/11/2015). 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Kegiatan penganugerahan Brawijaya Human Prize (BHP) yang digelar oleh BEM FISIP Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jumat (13/11/2015) diisi cerita narasumber yang memberi inspirasi bagi mereka yang datang di Gedung Widyaloka.

Ada Wahyu Nur Hidayat, alumnus Indonesia Mengajar. Kemudian Arief Nur Hidayat, mahasiswa FISIP UB, koodinator Earth Hour Malang, Astu Prasidya (sutradara film animasi), alumnus Universitas Negeri Malang (UM), dan Salma Safitri, alumnus UB, penggerak sekolah perempuan di Kota Batu.

Wahyu mengawali ceritanya dengan bertugas sebagai guru selama setahun di SD sebagai pengajar muda pada program Indonesia Mengajar pada 2012 lalu.

"Saya mendapat tugas mengajar di daerah pegunungan di Lebak, Banten, Jawa Barat," tutur dia di hadapan peserta yang datang di acara BHP.

Meski tugasnya mengajar di SD, namun kenyatannya tidak. Pagi sampai siang mengajar di SD. Kemudian pukul 14.00-16.00 WIB mengajar di madrasah diniyah. Setelah magrib di pondok dan kemudian belajar kelompok sampai malam.

"Saat itu di sana belum ada listrik. Kalau hujan becek. Jika sudah hujan, banyak siswa yang tidak berangkat," kata Wahyu yang saat itu mengajar kelas lima.

Pernah juga guru-gurunya tidak datang. Sehingga hanya dua guru yang handle kelas. Mengajar di kelas juga perjuangan lain. Tidak semua mengerti bahasa Indonesia. Sehingga kadang ia memakai bahasa tarzan. Saat musim hujan, siswa kebanyakan tidak memakai sepatunya. Pengalaman mengajarnya di sana menjadi kenangan indahnya.

Agar lebih mengena, ia juga menampilkan foto-foto lokasi tempatntya bertugas. Untuk mengikuti program ini, persaingannya sangat ketat. Sebab yang diambil tidak banyak.

"Kalau angkatan ganjil, satu angkatan antara 50-54 orang. Kalau angkatan genap antara 70-an orang," tuturnya.

Ketika ia lolos di Indonesia Mengajar, ia harus bersaingan dengan delapan ribuan orang lebih untuk mengikuti seleksi. Sedang Arief Nur Hidayat, mahasiswa FISIP UB merupakan koordinator Earth Hour Malang. Awalnya ia tidak tahu banyak soal lingkungan.

Menurut Arief, untuk lingkungan, semua harus dimulai dari diri sendiri dulu sebelum mengajak orang lain. Untuk mengurangi sampah plastik, ia mencontohkan lebih baik membawa tempat minum sendiri. Selain lebih bersih, ekonomis juga tidak ada potensi sampahnya.

"Misalkan beli minuman botol, kalau diberi tas kresek gak usah. Langsung minum saja," kata dia.

Jumlah penduduk Kota Malang sekitar 800.000 orang. Pada pagi sampai sore, warga mobile ada 200.000 orang bisa dari lintas wilayah lain ke Kota Malang.

"Kalau per orang sudah membeli air botol plastik dua, sampahnya sudah 2 juta. Belum sampah lainnya. Kadang hal sederhana seperti ini tidak dipikirkan," ujarnya.

Sedang Salma Safitri, penggerak sekolah perempuan desa di Kota Batu menceritakan kegiatannya untuk memberikan pengetahuan tentang banyak hal ke perempuan. Sekolah perempuan dilauching pada 23 agustus 2013.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved