Malang Raya
Dari Recehan, Dina Kini Raih Rp 16 Juta per Bulan, Ini Ceritanya
Belasan tahun pekerjaan itu dilakoni tapi keadaan ekonominya tak juga makmur. Sementara kebutuhan sehari-hari terus meningkat.Dia kemudian...
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: musahadah
SURYAMALANG.COM, MALANG – Pernah mengalami depresi karena menganggur setelah keluar dari pekerjaan, Dina Sri Agustun bangkit dan kini mulai menikmati jerih payahnya.
Perempuan asal Desa Sumber Porong, Lawang, Malang itu sukses menjadi penjual mal online dengan pemasukan rata-rata Rp 16 juta per bulan. Jauh lebih besar dibandingkan gajinya saat bekerja Rp 2 juta per bulan.
Perjalanan hidup Dina diawali pertengahan tahun 2013. Saat itu dia bekerja sebagai supervisor salah satu penyedia layanan telepon selular di Madura.
Belasan tahun pekerjaan itu dilakoni tapi keadaan ekonominya tak juga makmur. Sementara kebutuhan sehari-hari juga terus meningkat. "Saat itu saya berada di titik puncak kejenuhan. Maka saya mantapkan diri untuk resign," tutur Dina.
Keputusan Dina itu tak dibarengi kesiapan mental dan finansial yang matang. Pada pekan-pekan awal, ia masih merasanya nyaman hidup dengan uang dari tabungan.
Tapi ketika sudah menganggur tiga bulan, ia mulai kepayahan. Nominal dari saldo rekening semakin sedikit. Ia pun mulai puyeng untuk mencari pekerjaan lain.
Dari sana, Dina mulai aktif berseluncur di dunia internet. Wanita kelahiran 31 Agustus 1977 itu berusaha mengorek informasi lowongan kerja di sana.
Saat asyik berselancar, tak sengaja ia menemukan situs salah satu mal online di Indonesia. Naluri wanitanya mulai muncul. Ia jelajahi situs itu hingga puluhan klik.
Ketika mengingat kondisi finansialnya kurang mendukung membeli sesuatu dari sana, ia kembali berfokus pada tujuan awal, yakni mencari kerja. Perkenalan dengan situs mal online pun berhenti saat itu juga.
Di waktu lain, salah satu adik ipar Dina yang berasal dari luar kota berkunjung ke rumahnya. Oleh-oleh yang dibawa sebuah wall sticker ukuran besar bermotif kembang.
Benda itu kemudian menjadi hiasan di salah satu dinding rumah itu hingga sekarang. Merasa terkesan, Dina pun berpesan pada sang adik ipar agar dibawakan kembali wall sticker yang mirip saat berkunjung ke rumahnya lagi.
Pada akhir Desember di tahun yang sama, apes dialami Dina. Sebuah motor -- satu-satunya alat transportasi miliknya -- raib digondol maling.
Kondisi ini yang mendorong dia untuk benar-benar mencari solusi finansial. Dina pun memutar otak. Ia akhirnya kembali teringat akan mal online dan wall stiker.
"Itu yang membawa saya saat ini menjadi seller wall stiker di situs tersebut," lanjutnya. Dengan modal awal Rp 500 ribu hasil penjualan perhiasan simpanan, ia pun mantap berfokus menjadi penyuplai wall sticker untuk orang-orang di hampir seluruh kota besar di Tanah Air.
Hasilnya cukup memuaskan. Di bulan-bulan awal, Dinas sudah bisa mengumpulkan kembali pundi-pundi uang sebanyak yang pernah dia dapat dari bekerja sebagai supervisor.
"Pada bulan ke empat, saya sudah berani mengajukan kredit mobil sebagai penganti motor saya yang hilang," ungkapnya bangga.
Saat ini, setelah hampir dua tahun berjalan, pendapatan Dina per bulan rata-rata Rp 16 juta. Bagi Dina, hasil itu lebih dari cukup buat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di rumahnya saat ini, ratusan wall sticker tertumpuk di salah satu sudut ruangan. Ornamen diding rumahnya pun penuh hiasan tersebut. Sekali berbelanja, Dina bisa menghabiskan uang sekitar Rp 15 juta. Itu ia lakukan berkali-kali dalam sebulan.
Wanita kelahiran Banjarmasin itu mengaku, untung dari tiap lembar wall stiker tidaklah besar. Selembarnya hanya beberapa ribu rupiah saja. Bahkan, untuk beberapa item, Dina mengaku, besaran untung tak sampai Rp 1000. Terlebih, seluruh barang miliknya adalah produk impor dari Tiongkok. Dalam sehari pesanannya bisa sampai 100 lembar.
"Tapi itu yang ingin saya tunjukkan. Yakni kekuatan uang recehan. Kita tidak boleh menyepelehkannya. Kalau (uang receh) dikalikan, jumlahnya akan sangat besar. Contohnya, kita pernah ingat aksi solidaritas 'Koin Peduli Prita', dari kumpulan uang Rp 500-an saja saat itu bisa terkumpul 2,5 ton. Artinya, uang receh punya kekuatan yang besar," terang dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/dina-malang_20151114_123154.jpg)