Malang Raya
PG Krebet Malang Jadi yang Terbaik di Indonesia, Apa Istimewanya?
“Memang tidak ada perlombaan tinggi-tinggian rendemen. Tapi ukuran kinerja pabrik gula dinilai dari rendemennya,”
Penulis: David Yohanes | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, BULULAWANG - Sirene maraung-raung dari dalam Pabrik Gula (PG) Krebet Baru II, di Kecamatan Bululawang, Malang, Jawa Timur, Minggu (22/11) pukul 13.30 Sirine tersebut seagai tanda berakhirnya masa giling tahun 2015.
Penutupan masa giling dilakukan oleh Agung P Murdanoto, direktur pengambangan usaha PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) selaku pemegang saham PG Krebet Baru II. Tahun ini PG Krebet menorehkan prestasi tingkat nasional. Rendemen di PG Krebet Baru I dan PG Krebet Baru II tertinggi di Indonesia.
Capaian ini mengalahkan pabrik gula BUMN maupun pabik gula swasta. PG Krebet I mencapai angka rendemen hingga 9,71 persen. Sedangkan PG Kerebet II mencapai 10,03 persen.
“Memang tidak ada perlombaan tinggi-tinggian rendemen. Tapi ukuran kinerja pabrik gula dinilai dari rendemennya,” terang Genenal Manager PG Krebet Baru II, Jolly Lapian.
Angka pencapaian ini jauh melebihi para pesaing. Sebab di luar G Krebet, rendemen tertinggi hanya mencapai angka 8 persen lebih. Pencapain ini juga menegaskan, bahwa Malang adalah penghasil gula terbaik nasional.
Tahun ini PG Krebet menjalankan 160 hari masa giling. Total gula yag dihasilkan 150 ribu ton lebih gula. Angka ini setara dengan enam persen angka kebutuhan gula nasional, yang mencapai 3.000.000 ton.
“Kami menargetkan untuk menjadi yang terbaik di Asean. Karena itu kami terus merancang strategi khusus di masa depan,” tambah Jolly.
Masih menurut Jolly, pencapaian ini sudah melewati Vietnam yang rendemennya sekitar 9 persen. PG Krebet masih kalah dari Thailand, yang mencapai 11 persen. salah satu strategi yang disiapkan adalah, membagian bibit unggul tebu kepada petani secara gratis.
Setiap tahunnya, PG Krebet memberikan bibit 1000 hektar, dari tahun 2012. Jika tidak ada kendala, tahun 2017 ada 6.000 hektar lahan yang menapatkan bibit unggul Cuma-cuma.
“Kami sudah menyiapkan tebu dengan rendeman tinggi. Namun kadang ada kendala penolakan dari petani,” ujar Jolly.
Direktur PG Krebet I, Gede Meivera menimpali, pihaknya telah menyaiapan bibit tebu dengan potensi rendemen hingga 15 persen. tebu tersebut diproyeksi menjadi andalan untuk mendongkrak kinerja ke depan.
Salah satunya memupus kendala buruknya rendemen di masa awal giling, yang rata-rata hanya enam persen hingga tujuh persen. “Bulan Juni-Juli memang kualitas tebu masih jelek, rendemennya rendah. Dengan bibit ini diharapkan kendala tersebut bisa diatasi,” tutur Gede.
Lanjut Gede, kini yang perlu diwaspadai adaah siklus tiga tahunan. Dimana perubahan musim menjadi penyebab jatuhnya angka rendemen. Siklus tersebut dimulai tahun 2007, lalu teruang tahun 2010, 2013, dan diprediksi terjadi lagi tahun 2016 nanti.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/perusahaan-malang_20151122_214320.jpg)