Sabtu, 11 April 2026

Malang Raya

Berdandan Santai, Bos Air Asia Berbagi Pengalaman di Bekas Kampusnya

"Waktu itu saya pikir, pelajaran aneh-aneh itu apa dipakai gak ya buat kerja?" Ceritanya.

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: musahadah
surya/sylvianita widyawati
CEO Air Asia Indonesia, Sunu Widyatmoko diberi kenangan jas almamater dari FIA Universitas Brawijaya (UB) sebelum kuliah tamu, Jumat (4/12/2015). 

SURYAMALANG.COM-LOWOKWARU - Sunu Widyatmoko, CEO Air Asia Indonesia balik ke kampusnya di FIA Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jumat (4/12/2015). Sunu adalah alumnus UB angkatan 1990.

"Saya senang bisa ke kampus lagi. Tapi sudah banyak perubahan. Bahkan kelas saya dulu sudah tidak ada," ungkap Sunu ketika membuka percakapan saat jadi dosen tamu dengan tema "CEO Talk Series: Leading in Turbulence and The Competitive Landscape" di aula lantai 4 FIA UB.

Meski sudah menjabat CEO perusahaan ternama, penampilannya Sunu terlihat santai. Ia pakai sepatu kasual sneaker, bercelana jins dipadu hem.

"Biasanya saya kalau di kantor malah pakai kaos polo," aku Sunu.

Ia kemudian berbagi kisah perjalanan kariernya sejak meninggalkan bangku kuliah 25 tahun lalu. Ia bertutur, selama kuliah di jurusan Administrasi Negara diajari banyak hal.

"Waktu itu saya pikir, pelajaran aneh-aneh itu apa dipakai gak ya buat kerja?" Ceritanya.

Namun saat bekerja, ia ingat akan ilmu yang diberikan dosennya saat itu. "Dalam menimba ilmu, belajar saja. Kita tidak tahu suatu hari ilmu itu akan terpakai," kata Sunu yang mengaku lulusan dengan IP pas-pasan.

Ia kemudian mengingat mata kuliah Organization Behavior yang ia manfaatkan saat mengelola Air Asia Indonesia. "Ilmu itu sempat ngumpet di otak saya," kata pria yang berkarier di Air Asia sejak 2013.

Ia harus "ngopeni" 2000 karyawannya dan 24 pesawat. SDM-nya beragam dengan berbagai disiplin ilmu menjadi tantangan agar satu tujuan perusahaan.

Soal busana kerjanya yang kasual juga agar ia bisa masuk ke segala level. "Misalkan ketemu pegawai saya di lapangan, kalau pakai kasual juga enak. Mereka enak menyampaikan sesuatu sehingga bisa dekat dengan karyawan," ungkap alumnus MBA dari Amerika Serikat ini.

Kantornya di Air Asia juga tidak dibatasi sekat sehingga semua bisa ngobrol dengan saya. "Bahwa bos saya open. Itu mindset yang saya terapkan," katanya.

Pekerjaan tidak selalu mulus. Sampai suatu hari adalah masalah terkait pesawat Air Asia yang jatuh saat dalam perjalanan ke Singapura dari Surabaya. Saat itu dia sedang berada di Bali.

"Saya sedang dijewer Tuhan," kata Sunu. Dalam perjalanan ke Bali-Surabaya, ia memutuskan tinggal di Surabaya selama 2,5 bulan untuk mengurusi berbagai hal terkait kecelakaan itu. Misalkan ke keluarga korban, support polisi, KNKT juga media dll.

"Semua saya hadapi. Saya bukan tipe bos yang bersembunyi ketika ada masalah," ungkapnya.

Ia mengaku bukan tipikal orang yang mendelegasikan ke orang lain saat kondisi susah. "Sebagai CEO, saya adalah corong," tutur dia.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved