Blitar

Kuasa Hukum Perampok Emas Minta Kliennya Dihukum Ringan, Ini Alasannya!

"Karena itu, kami mohon pada hakim, agar klien kami diputus seringan-ringannya," paparnya.

Kuasa Hukum Perampok Emas Minta Kliennya Dihukum Ringan, Ini Alasannya!
SURYAMALANG.COM/Imam Taufiq
Perampok emas di Blitar digiring polisi di Mapolres setempat 

SURYAMALANG.COM, BLITAR - Sidang putusan terhadap lima terdakwa perampok toko emas, Selasa (29/12) siang, ditunda.

Itu dikarenakan kuasa hukum kelima terdakwa, Septa Cintia SH, mendadak mengajukan pembelaan terrhadap kliennya.

Septa tak membacakan materi pembelaan, hanya diserahkan tertulis ke majelis hakim yang diketahui Rais Taroji SH.

Intinya, ia memohon pada majelis hakim, agar kliennya dihukum seringan-ringannya. Alasannya, klien bersikap baik di persidangan, termasuk mengakui perbuatannya, dan belum pernah dihukum.

"Karena itu, kami mohon pada hakim, agar klien kami diputus seringan-ringannya," paparnya.

Selanjutnya, disidang putusan akan diagendakan pada Kamis (7/1/2016) mendatang.

Seperti diberitakan, pada Selasa (15/12) siang lalu, Roro Hartini SH, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Blitar, menuntut lima terdakwa dengan hukuman 8 tahun penjara. Alasannya, karena perbuatan mereka itu telah merugikan dan meresahkan masyarakat.

Kelima kawanan perampok itu adalah Andut Prasetyo (32), yang merupakan otak dan penyandang dananya, termasuk pemilik enam senpi, Gaguk Susanto (20), Nizar Ismail (20), Arif alias Gotang (20), Imam Samsuri (20), semuanya warga Desa Kiping, Kecamatan Gondang, Tulungagung.

Selain menuntut hukuman, JPU juga meminta agar enam senpi dan seluruh amunisinya, yang telah dipakai beraksi oleh kawanan itu, supaya dimusnahkan.

Pada sidang sebelumnya, tiga komplotan mereka telah divonis lebih dulu. Itu karena mereka dianggap masih anak-anak, sehingga vonisnya dipercepat.

Mereka adalah Fe (15), Ri (17), dan An (17), ketiganya warga Desa Kipeng, Kecamatan Gondang, Tulungagung. Untuk Fe dan An, masing-masing divonis 3 tahun lima bulan, sedang Ri divonis 4 tahun enam bulan.

Perampokan sendiri terjadi pada siang bolong atau pada 12 Agustus 2015 lalu. Sebulan kemudian (pada 7 September lalu), mereka tertangkap di dua tempat. Yakni, di Tulungagung dan Semarang.

Penulis: Imam Taufiq
Editor: musahadah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved