Kamis, 28 Mei 2026

Malang Raya

Sendra Tari Calon Arang Bikin Penonton Menangis

Sendra tari itu ditampilkan oleh 50 orang yang terdiri dari pemusik, sinden, dan penari.

Tayang:
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM/Hayu Yudha Prabowo
Adegan dalam pentas Drama Tari berjudul Giri Gora Dahuru Daha oleh Sanggar Tari Anjungan Jawa Timur TMII Jakarta di Gedung Kesenian Gajayana, Kota Malang, Minggu (24/1/2016). Drama Tari ini menceritakan kisah penangkapan Calon Arang yang menyebarkab penyakit pada rakyat kerajaan Kahuripan 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - 'Maafkan saya kakang ayu, maafkan. Saya terpaksa membunuhmu," ratap Mpu Barada. Mpu Barada meratap dan meminta maaf sambil memeluk sang kakak, Serat Asih atau yang dikenal julukan Calon Arang.

Adegan di atas merupakan adegan penutup dari sendra tari berjudul 'Giri Gora Dahuru Daha' yang berarti Prahara Daha.

Sendra tari berdurasi sekitar 45 menit itu ditampilkan di Gedung Kesenian Gajayana Kota Malang oleh anggota Sanggar Anjungan Jawa Timur di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Minggu (24/1/2016).

Adegan penutup cukup menyentuh hati dan membuat beberapa orang meneteskan air mata. Sebab, seorang adik meskipun adik sepupu telah membunuh sang kakak. Adalah Mpu Barada yang membunuh Calon Arang atas perintah Raja Daha (Kediri) Airlangga.

Sendra tari itu ditampilkan oleh 50 orang yang terdiri dari pemusik, sinden, dan penari. Giri Gora Dahuru Daha bercerita tentang kisah Calon Arang dari Girah, suatu tempat di Kerajaan Daha (Kediri) yang ketika itu dipimpin Airlangga.

Calon Arang, perempuan sakti mandraguna memiliki anak perempuan bernama Ratna Manggali. Hanya saja sampai waktu usia menikah, tak seorang pun pemuda di Daha melamar sang anak. Calon Arang marah. Melalui kesaktiannya, ia menyebarkan wabah penyakit kepada rakyat Daha.

Sang raja Airlangga kemudian meminta tolong kepada Mpu Barada untuk mengalahkan Calon Arang. Airlangga dikisahkan ingin menolong sang rakyat. Atas nama perintah kerajaan, Barada pun setuju meskipun harus bertarung melawan kakak sepupunya sendiri.

Merasa kalah sakti, Barada menyuruh sang murid Mpu Bahula melamar dan menikahi Ratna Manggali. Pernikahan berlangsung. Bahula mendapatkan kitab 'Asih' milik Calon Arang. Di kitab itulah, kesaktian dan kelemahan Calon Arang tertulis.

Di akhir cerita, Barada bertarung dengan Calon Arang. Barada nyaris kalah. Barada pun mengeluarkan keris Weling Putih. Calon Arang terkejut dan minta ampun.

'Ampun adinda, tolong jangan bunuh saya," kata Calon Arang sambil meminta ampun.

Barada memilih menjalankan perintah raja. Ia menusukkan keris putihnya yang menjadi kelemahan Calon Arang ke perut perempuan itu. Barada meratap dan bersedih. Calon Arang kalah.

"Bagus sekali, saya sampai meneteskan air mata melihat adegan adik membunuh kakaknya. Pertunjukan bagus, jarang sekali seperti ini ditampilkan di Malang," ujar Ny Nani asal Kecamatan Lowokwaru mengomentari penampilan sentra tari itu.

Cepat-cepat ia berkata lagi 'kalau perlu diadakan lagi penampilan kayak gini'. Menurutnya penampilan sendra tari yang bercerita tentang cerita rakyat Indonesia perlu banyak diangkat. Karena itu merupakan salah satu cara melestarikan kebudayaan Indonesia.

"Juga melalui tari seperti tadi kan tidak monoton, dan selama pertunjukan anak saya sangat tertarik, bertanya yang dilakonkan. Anak-anak tidak bosan," tegas ibu dari Naira Nesha Gina itu.

Penampilan Giri Gora Dahuru Daha di Kota Malang disutradarai Heri Suprayitno. Kelompok itu sebenarnya hanya mampir di Kota Malang. Mereka datang dari Jakarta untuk tampil di Surabaya, Sabtu (23/1/2016) malam.

Minggu (24/1/2016) sore agenda rombongan penari itu sebenarnya ke Kota Batu untuk berwisata. "Tetapi diminta mengisi acara di sini, kami setuju karena ini sekaligus untuk sharing ilmu," ujar Heri.

Sendra tari kisah Calon Arang itu dibuka dengan penampilan tari Gedrukan. Kemudian cerita tari mengalir dari kehidupan rakyat Daha, kegalauan sang raja, pernikahan Mpu Bahula dan Ratna Manggali, hingga pertarungan Mpu Barada dan Calon Arang.

Semua dilakoni dalam tarian yang luwes tetapi kuat. Penampilan apik selama 45 menit itu tidak membuat penonton beranjak. Bahkan anak-anak terlihat maju sampai di dekat para pemain gamelan.

Mereka yang menonton sebagian besar adalah anak-anak yang mengikuti uji pentas oleh sanggar tari Senaputra. Orang tua anak-anak juga turut serta. Sendra tari itu menjadi penutup sekaligus penampilan tamu dalam uji pentas yang diadakan setiap enam bulan sekali itu.

"Tentu saja kami senang dan bangga karena mendapatkan penampilan tamu dari anjungan TMII. Penampilan mereka tentunya menjadi pelajaran bagi anak didik di Senaputra," ujar Ketua sanggar tari Senaputra, Anny Kusuma Wardani

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved