Kamis, 9 April 2026

Malang Raya

Sebelum Disteril, Kucing Harus Melalui Proses Ini Agar Tak Merepotkan!

Sebelum dikastrasi, kucing harus ditimbang dulu. Hal ini untuk mengetahui berat badan dan kesehatan si kucing. Setelah itu barulah dibius, dan dibedah

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: musahadah
surya/sri wahyu

SURYAMALANG.COM, DAU - Tubuhnya telentang. Empat kakinya menjulang ke atas. Matanya yang berwarna kehijauan masih terbuka dan kadang berkedip. Namun ia tidak banyak tingkah.

Sementara, dua orang memegang tubuhnya. Satu dokter muda memegang bagian atas tubuhnya, dan seorang dokter hewan beraksi di bagian alat reproduksinya.

Dokter hewan membuka lapisan kulit di alat reproduksi, kemudian membedah dan mengambil dua butir testis.

Inilah gambaran operasi sterilisasi pada kucing atau yang disebut kastrasi di Klinik Hewan Pendidikan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya di Kecamatan Dau Kabupaten Malang, Jumat (5/2/2016).

Kucing-kucing yang berada di meja operasi tidak banyak tingkah karena mereka mendapatkan bius total. 'Kucingnya dibius total, sehingga tidak banyak tingkah meskipun matanya melek," ujar drh Eka Andrian Novianto.

Tidak butuh waktu lama untuk kastrasi seekor kucing. Eka menyebut hanya membutuhkan waktu antara tiga hingga lima menit.

Sebelum dikastrasi, kucing harus ditimbang dulu. Hal ini untuk mengetahui berat badan dan kesehatan si kucing. Setelah itu barulah dibius, dan dibedah. Setelah itu, kucing ditempatkan di kandang masing-masing sampai mereka tersadar.

Kesadaran para kucing berbeda. Ada yang enak saja tidur sampai benar-benar saja, ada juga yang menggeram marah hingga mengeluarkan taring dan kuku cakarnya.

Seekor kucing berwarna abu-abu marah ketika hendak sadar. Walhasil beberapa orang harus menundukkan sang kucing.

Merlin Christina, anggota Perkumpulan Kucing Domestik Indonesia (PKDI) Chapter Malang langsung menutupi wajah sang kucing dan langsung tenang.

"Memang begitu, ada yang marah ada juga yang pules tidurnya," lanjut Eka.

Kucing yang usai dikastrasi dikumpulkan di salah satu sisi ruangan di klinik tersebut. Mereka terlihat lucu dalam tidurnya. Nadia, seorang bocah TK asal Singosari setia menemani sang kucing.

"Satu, di rumah ada lima kucing," katanya saat ditanya berapa ekor yang ikut dikastrasi.

Ibu Nadia, Ny Rosaria Dian mengatakan mengetahui program kastrasi di klinik FKH UB itu melalui media sosial. 'Pingin ikut, biar tidak nambah populasi. Di rumah ada lima, satu jantan ini, satu ekor betina dan tiga lagi anak mereka," ujar Rosa.

Kalaupun ingin menambah populasi kucing, lanjutnya, ia lebih memilih mencari dan memelihara kucing yang terlantar atau tidak bertuan. 'Mending ngopeni yang begitu, biasanya nemu di jalan. Masih banyak kucing yang terlantar," tegasnya.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved