Kamis, 23 April 2026

Malang Raya

Waduh, Papan Informasi Wisata Taman Tugu Malang Tak Dilirik

"Paling penting informasi, kalau wisata heritage ada dua hal yakni melalui story line dan interpretasi. Story line itu kisah atau sejarah singkat,"

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM/Sri Wahyunik
Sebuah papan bertempel kertas berisi informasi tentang Tugu Alun-alun 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Sebuah papan bertempel kertas berisi informasi tentang Tugu Alun-alun Bundar terpancang di sisi selatan monumen Tugu. Papan informasi itu terletak di jalan masuk Tugu dari arah Balai Kota Malang.

Papan informasi itu berisikan sejarah singkat tentang Tugu, si alun-alun bundar, lansekap yang identik dengan Kota Malang. Sejarah singkat atau yang disebut story line itu juga dilengkapi beberapa gambar foto.

Sayangnya, papan informasi itu sudah memudar. Buram. Tulisan tidak terbaca dari jarak agak jauh. Beberapa bagian sudah mengelupas. Padahal story line bercerita tentang sejarah perjuangan arek-arek Malang dalam membangun monumen yang kemudian diberi nama Tugu Nasional oleh Presiden Sukarno pada 20 Mei 1953.

Batu pertama Tugu diletakkan pada 17 Agustus 1946, dan sempat dihancurkan oleh tentara Belanda pada 23 Desember 1948, dan kemudian dibangun lagi sampai diresmikan oleh Presiden Sukarno di tahun 1953.

Story line serupa juga bisa ditemukan di depan Balai Kota Malang. Papan informasi itu bercerita tentang sejarah Balai Kota. Kondisi papan informasi balaikota sedikit lebih bagus daripada story line yang ada di Tugu, meskipun juga sudah sama-sama menguning kertasnya.

Jawair dan Samsul, dua orang mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang, tidak 'ngeh' kalau ada papan informasi tentang Tugu di dalam kawasan taman bundar itu. Jawair baru tahu ketika ditanya Surya.

'Saya sering kesini, tetapi tidak pernah tahu kalau tulisan ini berisi informasi tentang Tugu. Tampilannya tidak menarik, bahkan ini buram jadi orang tidak mendekatinya," ujar mahasiswa Fakultas Teknik UMM itu, Minggu (6/3/2016).

Padahal bukan sekali ini saja ia datang ke Taman Tugu. Ia mengharapkan papan informasi sejarah itu diperbaiki. Tampilannya digarap lebih menarik minat pengunjung untuk mendekati dan membacanya.

Jawair kemudian membandingkan dengan papan informasi di Coban Rondo Kota Batu. "Kalau di tempat itu jelas keterangan tentang coban-nya, jadi pengunjung bisa membaca secara enak," lanjutnya. Setelah tahu di tempat itu ada papan informasi, Jawair dan Samsul membacanya secara tuntas.

Menurut Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wisata Budaya Kementerian Pariwisata, Lokot Ahmad Enda, story line merupakan hal penting jika daerah setempat ingin mengembangkan wisata heritage.

"Paling penting itu informasi, kalau wisata heritage ada dua hal yakni melalui story line dan interpretasi. Story line itu kisah atau sejarah singkat yang biasanya ditempatkan di tempat wisata. Kalau interpretasi itu bisa dijelaskan secara oral atau melalui pamflet dan buku," ujar Lokot waktu bertemu Surya beberapa waktu lalu.

Penjelasan itu bisa diberikan oleh seorang guide. Pamflet dan buku bisa disediakan di tempat wisata yang dipromosikan oleh pemerintah daerah setempat.

Sejarah singkat, lanjutnya, sangat penting karena akan menjadi informasi awal bagi pengunjung tempat itu.

'Selain juga koordinasi dengan stakeholder seperti hotel, pengelola usaha tur, dan restoran untuk menjual pariwisata heritage. Harus sinergi," tegasnya.

Kota Malang dipenuhi dengan sejumlah bangunan dan lansekap tempo dulu. sebut saja Taman Tugu, boulevard Ijen, balaikota, Bank Indonesia, juga deretan bangunan di Jalan Ijen. Karenanya Pemkot menjual wisata heritage ini kepada wisatawan seperti disampaikan oleh pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved