Kamis, 21 Mei 2026

Kota Malang

Pedagang Olahan Kedelai di Kota Malang Mulai Waspadai Dampak Pelemahan Rupiah

Rupiah melemah terhadap dolar AS, efek domino impor kedelai mulai menghantui isi dompet para pencinta tempe di Kota Malang, termasuk pelaku usaha.

Tayang:
Penulis: Benni Indo | Editor: Sarah Elnyora Rumaropen
SURYAMALANG.COM/Benni Indo
NILAI RUPIAH MEROSOT - Ahmad Ali berjualan tempe di Pasar Blimbing pada Rabu (20/5/2026). Merespons terus melemahnya rupiah terhadap dollar, sebagai pedagang, Ali akan menyesuaikan harga produknya terhadap nilai pasar. 

Ringkasan Berita:
  • Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai memicu kekhawatiran di kalangan pengrajin dan pedagang tempe di Kota Malang pada Rabu (20/5/2026). 
  • Mengingat bahan baku kedelai mayoritas masih bergantung pada impor, fluktuasi valuta asing berdampak langsung pada biaya produksi. 
  • Saat ini, kenaikan harga kedelai di tingkat pedagang pasar berkisar antara Rp100 hingga Rp200 per kilogram, sementara di tingkat industri rumahan tercatat naik Rp200 hingga Rp300 per kilogram dalam bulan ini.

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menjadi perhatian para pedagang tempe di Kota Malang, Rabu (20/5/2026).

Meski dampaknya belum terlalu besar, pelaku usaha mulai bersiap menghadapi potensi kenaikan harga bahan baku kedelai dan biaya distribusi.

Pedagang tempe di Pasar Blimbing, Ahmad Ali, mengatakan harga produk berbahan kedelai memang tidak bisa dilepaskan dari pengaruh valuta asing, karena sebagian besar bahan baku masih bergantung pada impor.

“Memang ada beberapa produk yang terpengaruh valuta asing. Harga tempe juga ikut naik,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).

Ongkos Angkut dan Isu Global

Menurut Ahmad Ali, kenaikan harga tempe saat ini belum terlalu signifikan, berada di kisaran Rp 100 hingga Rp 200.

“Secara garis besar belum naik besar. Paling Rp 100 sampai Rp 200,” katanya.

Ali menilai, kondisi saat ini masih cukup terkendali, meski kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah tetap ada.

Ahmad Ali mengungkapkan, pemerintah pusat sempat memberikan subsidi kedelai kepada pelaku usaha tempe setelah pandemi Covid-19.

Baca juga: Melemahnya Rupiah Bikin Peternak dan Petani di Kota Batu Sengsara

Bantuan tersebut diberikan untuk menahan lonjakan harga bahan baku, kini Ali berharap hal serupa bisa dilakukan oleh pemerintah jika kenaikan tidak terkendali.

“Dulu pernah ada subsidi sekitar Rp 1.000 per kilogram. Saya sempat dapat hampir tiga bulan setelah Covid-19,” ujarnya.

Namun saat ini, pelaku usaha kembali harus menyesuaikan diri dengan kondisi pasar tanpa subsidi khusus.

Menurut Ali, faktor yang paling dikhawatirkan bukan hanya nilai tukar rupiah, tetapi juga potensi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Kalau nanti BBM naik, itu yang biasanya dampaknya drastis,” katanya.

Ali menjelaskan, biaya transportasi menjadi salah satu komponen penting dalam distribusi kedelai di Indonesia. Hal itu membuat harga kedelai antar daerah bisa berbeda.

“Di setiap daerah ada selisih karena biaya transportasi,” ujarnya.

Baca juga: Aksi Pecah Kaca Mobil Terekam CCTV di Banyuwangi, Tas Berisi Uang Ratusan Juta Rupiah Dicuri

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved