Kediri
"Dari Warung Ini Kami Menghidupi Keluarga, Kenapa Harus Dibongkar"
Ibu-ibu dan tukang becak yang ikut demo tak mampu menahan tangis saat dua pemilik warung Ny Wiwik (60) dan Suparno (58) memberikan kesaksiannya
Penulis: Didik Mashudi | Editor: musahadah
SURYAMALANG.COM, KEDIRI - Penggusuran warung dan kios di areal Stasiun Kota Kediri diwarnai hujan tangis, Rabu (23/3/2016).
Ibu-ibu dan tukang becak yang ikut demo tak mampu menahan tangis saat dua pemilik warung Ny Wiwik (60) dan Suparno (58) memberikan kesaksiannya di hadapan massa.
Sambil terisak menahan sedih Ny Wiwik mengaku prihatin dan pasrah warung tempatnya mengais rejeki harus dibongkar paksa. "Kami sudah puluhan tahun berjualan, sekarang harus pergi," ungkapnya sambil terisak.
Perempuan yang telah menjanda itu mengaku sejak masih muda sudah berjualan di warung yang menjadi warisan keluarganya. "Sejak masih anak-anak orangtua kami berjualan warung ini," ujarnya.
Dia semula berharap dapat kompensasi, tapi malah pembongkaran paksa yang diterimanya. "Tidak tahu mas saya akan berjualan kemana lagi. Warung itu tempat saya berjualan sudah dibongkar," paparnya.
Ungkapan senada juga dikemukakan Suparno yang mengaku tidak tahu lagi harus berbuat apa setelah warung peninggalkan almarhum orangtuanya sudah rata dengan tanah. "Dari warung itu kami menghidupi keluarga," ungkapnya.
Akibat penggusuran itu malahan anak keduanya yang masih duduk di bangku SD sempat menangis histeris. Suparno tampak menenangkan anaknya dengan sesekali menghiburnya.
Namun sang anak tampak terus menangis karena warung orangtuanya telah dibongkar paksa. Warung yang ditempati Suparno warisan almarhum ayahnya, Rusmin. "Sejak saya masih anak-anak, ayah saya berjualan disini. Lokasinya di warung yang dibongkar itu," jelas Suparno.
Diakui Suparno, sejak 2010 memang sudah tidak membayar uang sewa lagi ke PT KAI. "Sebenarnya kami bukannya tidak mau bayar, tapi pembayaran kami ditolak," jelasnya.
PT KAI memang telah menawarkan lokasi alternatif untuk berjualan di kios yang ditentukan. Hanya saja harga sewanya dirasa sangat mahal karena harus membayar Rp 50 juta.
"Kami tak mampu membayar sewa Rp 50 juta. Warung kami hanya kecil jualan makanan ringan dan kopi, penghasilan kami juga tak seberapa," tambahnya.
Sejauh ini Suparno masih belum ada alternatif lokasi tempat berjualan baru. "Inginnya tetap jualan, karena itu mata pencaharian kami. Apalagi anak-anak saya masih sekolah semua," jelasnya.
Ketua Paguyuban Bocah Stasiun (Bosta) Nowo Doso mengaku sudah berupaya berjuang untuk menggagalkan pembongkaran paksa. Namun usaha yang dilakukan tak membuahkan hasil.
Namun Nowo mengaku bangga kepada Bu Wiwik dan Suparno yang mengaku iklas warungnya dibongkar. "Kami hanya orang-orang kecil tak kuasa melawan. Kami hanya pasrah," ujarnya.
Spontan aksi demo yang digelar di halaman Stasiun Kota Kediri diwarnai isak tangis. Nowo Doso sendiri juga ikut menangis karena terharu kedua pemilik warung yang dibongkar mengaku iklas.
Sementara Supriyanto, Humas Daop 7 menjelaskan warung dan kios yang dibongkar sudah tidak punya ikatan kontrak lagi dengan PT KAI. Pemilik warung itu menggunakan lahan PT KAI untuk berjualan dan membuka usaha.