Sabtu, 2 Mei 2026

Malang Raya

Pameran Foto Sejarah Dikeluhkan Pengunjung, Mengapa?

Para pengunjung yang tertarik pada foto salah satu candi juga menjadi penasaran dengan lokasi pengambilan gambar akibat tidak adanya keterangan foto.

Tayang:
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM/Hayu Yudha Prabowo
Pengunjung melihat rangkaian foto peninggalan sejarah dan budaya Malang Raya yang dipamerkan di lobi Balai Kota Malang, Senin (28/3/2016). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN – Pameran foto sejarah di Balai Kota Malang yang dimulai Senin (28/3/2016) cukup disayangkan. Tak ada informasi yang bisa diulik dari sebagian besar foto yang foto yang terbingkai dari total 50 pajangan.

Tak ada papan informasi yang bisa dibaca pengunjung. Tak ada keterangan yang menyertai foto, kecuali keterangan judul di beberapa frame yang berisi foto perbandingan dulu-sekarang. Tak ada penitia yang berjaga. Yang ada hanya gambar-gambar “mati” yang bisa dilihat tanpa ekspektasi.

Aris (29), pengujung, mengatakan, tak adanya informasi tentang foto-foto yang dipajang membuat pengunjung bingung tentang pameran itu. Dalam pameran, menurut dia, pengunjung mestinya mendapat informasi awal dan informasi mendalam. Informasi itu bisa didapat dari dua sumber. Pertama keterangan tertulis. Kedua, pemandu yang bisa berasal dari panitia penyelenggara atau pemilik foto.

“Saya datang untuk melihat hasil karya teman. Dia mengabari kalau karyanya terpilih dan dipajang di pameran di Balai Kota,” kata Aris kepada SURYAMALANG.COM, usai melihat pameran itu.

Pria berambut gondrong menyebut, sebenarnya kualitas foto yang dipajang cukup menarik. Hanya saja, tidak ada konteks yang mengikutinya. Seperti pada beberapa foto candi, pengunjung yang bukan asli Malang kemungkinan besar tidak akan mengetahui lokasi objek foto karena minimnya informasi.

“Foto masa yang membandingkan keadaan zaman dulu dan sekarang juga tidak singkron,” tambah dia.

Sudut pengambilan objek foto zaman sekarang sebagian besar tidak sama dengan sudut pandang pada foto zaman dulu. Hal itu bisa ditemui pada foto perbandingan berjudul “Pasar Besar Malang”, misalnya.

Foto zaman dulu objek itu diambil dari sudut jauh dengan format horisontal. Sementara foto pembanding zaman sekarang diambil berformat vertikal dengan sudut pengambilan yang lebih dekat dengan objek. Aris menyebut, hal itu mengurangi rasa puas pengunjung yang benar-benar ingin tahu perbedaan objek dari satu zaman ke zaman lain.

Para pengunjung yang tertarik pada foto salah satu candi juga menjadi penasaran dengan lokasi pengambilan gambar akibat tidak adanya keterangan foto.

“Ini di mana, ya? Singosari, ya?” tanya Abdul Malik, pengunjung lain kepada rekan yang tidak sengaja bertemu di ruang pameran.

Sang rekan yang tidak tahu persis pun hanya mengangkat bahu.

Nanda (20), mahasiswa semester 6 Insitut Teknologi Nasional Malang yang datang ke pameran, pun mengkritik perbedaan yang mencolok pada foto perbandingan dulu-sekarang. Ia mengaku, foto zaman dulu yang dipajang juga sebelumnya sudah sering ia lihat.

Misalnya dalam pagelaran Malang Tempoe Doloe (MTD). “Paling yang beda gambar perbandingan (mal) Sarinah ini. Saya belum pernah lihat,” kata dia, menunjuk foto yang ia maksud.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved