Pejuang Pendidikan
Inilah Refleksi Hari Pendidikan Nasional oleh Prof Muhadjir Effendy
Hadirnya pihak-pihak di luar pemerintahan yang peduli pendidikan menandakan bahwa tidak sedikit orang yang menaruh perhatian terhadap pendidikan.
Penulis: Benni Indo | Editor: musahadah
Analisis: Prof Dr Muhajir Effendy MAP
Praktisi Pendidikan (Mantan Rektor UMM)
Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tak sekadar seremonial. Tapi sebagai bahan evaluasi dari segi kualitas maupun kuantitas. Hal yang terpenting, apakah pendidikan kita mampu mencakup aspirasi masyarakat?
Ketika di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ada dana 20 persen dari APBN.
Sebetulnya itu jumlah yang tidak banyak. Apalagi, sebagian besar terserap biaya operasional. Beberapa daerah juga ada yang salah menerjemahkan sehingga biaya itu tidak efektif.
Maka saya kira kehadiran pihak-pihak lain yang kemudian membuka lembaga pendidikan perlu diapresiasi. Apalagi sebagian dari mereka menggratiskan biaya pendidikannya.
Cara seperti itu sebetulnya lebih berpengaruh daripada mengeluarkan banyak biaya namun implikasinya tidak sesuai tujuan.
Hadirnya pihak-pihak di luar pemerintahan yang peduli pendidikan menandakan bahwa tidak sedikit orang yang menaruh perhatian terhadap pendidikan.
Di sisi lain, bisa berarti kalau untuk mencapai cita-cita pendidikan, pemerintah tidak bisa bergerak sendiri. Bahkan, upaya mereka bisa dibilang lebih tulus. Pasalnya, sebagai contoh, mereka membuka tempat belajar gratis. Tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Justru mereka itulah yang mengambarkan revolusi mental sesungguhnya. Hadirnya pihak-pihak seperti itu telah memberikan kesempatan kepada peserta didik mendalami ilmu. Bahwa ilmu tidak harus berada di sekolah formal.
Persoalan yang sekarang ini mendesak adalah sampai berapa jauh janji kampanye Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla betul-betul dilaksanakan.
Dulu kalau kita baca rencana perubahan di sektor perubahan itu kan presiden menekankan pendidikan karakter dalam rangka revolusi mental. Harus ada perubahan mendasar di sektor pendidikan. Tapi nyatanya, kurikulum 2013 juga masih bermasalah.
Mesti ada perubahan yang serius, terutama berkaitan dengan pendidikan dasar 12 tahun. Kita tidak bisa mencampur adukan sekolah dasar dengan pendidikan dasar. Saat ini, pendidikan dasar bergeser dari 6 tahun ke 12 tahun.
Itu menunjukkan kalau tamatan SMP diberi dasar yang cukup sebagai warga negara yang baik, tidak disiapkan sebagai pekerja.
Sebenarnya, yang didorong adalah mengubah karakter lama menjadi karakter yang baru. Karakter baru yang melahirkan karakter revolusioner. Karakter yang siap menjadi penerus Indonesia lebih baik. Dan, itulah yang disebut revolusi mental di sektor pendidikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/muhajir-effendy_20160502_125617.jpg)