Malang Raya
Kasus Kekerasan Seksual pada Anak Difabel Meningkat, ini yang Harus Dilakukan Orangtua
Ketua Pelaksana Carita Co Universitas Brawijaya, Edo Arief Pratama mengatakan, umumnya anak difabel kurang memahami perlakuan kekerasan seksual yang..
Penulis: Ahmad Amru Muiz | Editor: musahadah
SURYAMALANG.COM, BATU - Sebanyak 80 orang tua dari anak berkebutuhan khusus (difabel) mendapat pelatihan tentang kesehatan reproduksi dan seksual di Graha Wangsa Kota Batu, Minggu (8/5/2016).
Hal itu dilakukan setelah kasus kekerasan seksual yang menimpa anak difabel dirasa selalu meningkat setiap tahunnya.
Ketua Pelaksana Carita Co Universitas Brawijaya, Edo Arief Pratama mengatakan, umumnya anak difabel kurang memahami perlakuan kekerasan seksual yang dialaminya.
Mereka menganggap perbuatan tersebut biasa dan wajar dilakukan saudara atau orang dekat dengan keluarganya.
Akibatnya anak difabel mudah diperdayai untuk dijadikan sasaran kekerasan seksual, terutama anak autis dengan tingkat kenormalan 80 persen tapi dianggap normal.
"Dengan memberi pengetahuan kesehatan reproduksi dan seksualitas pada orang tua anak difabel maka peristiwa kekerasan seksual bisa dicegah sedini mungkin. Karena hanya orang tua anak difabel yang bisa melakukan antisipasi kekerasan seksual melalui kedekatannya pada anak," kata Edo Arief Pratama di Graha Wangsa Kota Batu, Minggu (8/5/2016).
Di pelatihan ini, para orang tua anak penyandang difabel dikenalkan istilah-istilah kesehatan reproduksi dan seksual yang belum diketahui secara lebih mendalam dan detail.
Setelah mengetahui istilah-istilah tersebut maka ortu diharapkan akan dapat menterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh anaknya penyandang difabel.
Dengan demikian, anak difabel akan mengerti dan memahami tindakan-tindakan yang tidak boleh dilakukan.
Terutama tindakan cabul yang dilakukan oleh orang di keluarganya sendiri atau kerabat dekatnya yang tidak boleh terjadi.
"Bila si anak penyandang difabel mengerti dan mengetahui tindakan yang tidak boleh dilakukan maka mereka bisa menolak perbuatan mengarah pencabulan yang mengancamnya, dan mereka akan mudah melapor ke orang tau bila mengalami peristiwa yang tidak boleh dilakukan itu," ujar Edo didampingi Humas Carita Co UB Malang, Irtanty.
Trainer SABDA dan Aktifis Difabel Malang Raya, Farida Candrayani mengatakan, orang tua tidak boleh menyembunyikan jawaban pertanyaan dari anak.
Apa yang ditanyakan harus dijawab meski dengan penerjemahan yang lebih sederhana dan mudah dipahami sesuai bahasa yang sering digunakan.
"Anak pasti akan menerima penjelasan apapun atas pertanyaanya itu, jangan tidak dijawab. Karena anak pasti akan mencari jawaban sendiri dari yang lain dan itu yang bahaya kalau salah dalam penerjemahannya," kata Farida.
Hal sama disampaikan Dosen Kebidanan UB Malang, Nurul Hidayah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/pelatihan-difabel_20160508_192323.jpg)