Malang Raya
Gelombang Tinggi, Nelayan Tradisional Pantai Malang Selatan Enggan Melaut
Akibat gelombang tinggi yang terjadi di Pantai Malang Selatan, khususnya Pantai Tamban, membuat nelayan tradisional takut melaut
Penulis: Sany Eka Putri | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM, SUMBERMANJING WETAN - Akibat gelombang tinggi yang terjadi di Pantai Malang Selatan, khususnya Pantai Tamban, membuat nelayan tradisional takut melaut. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Nelayan Desa Sendangbiru, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Darsono.
Ia mengatakan untuk kapal penangkap ikan, dalam situasi laut tenang, biasanya kapal ikan yang bongkar muat sampai 20 buah kapal. "Saat ini berkurang hanya tiga hingga lima kapal dalam sehari," tutur dia, Selasa (2/8/2016).
Tentunya ini berpengaruh pada pendapatan nelayan. Bahkan pasokan ikan menurun drastis. Dikatakannya pasokan ikan saat ini di tempat pelelangan ikan hanya tiga ton, turun dari lima ton sehari. Bahkan mempengaruhi harga ikan. Salah satu contoh ikan tuna harga normalnya hanya Rp 20 ribu perkilogram. Kini mendekati Rp 40 ribu.
Pendapatan nelayan dalam situasi normal, untuk nelayan khusus tradisional pendapatan mereka setiap harinya mencapai Rp 150 ribu. "Pendapatan bersih, bisa mencapai lebih dari Rp 4 juta perbulan," jelas dia.
Data terakhir, ia menyebutkan jumlah nelayan di sini sebanyak 3000 orang, dengan perincian, 2500 orang merupakan penduduk lokal.
Diberitakan sebelumnya, hingga malam ini gelombang Pantai Malang Selatan, khususnya Pantai Tamban, mencapai 5 meter. Bahkan, BPBD Kabupaten Malang menyatakan, gelombang air laut sudah mencapai bibir pantai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/nelayan-malang_20160622_211359.jpg)