Gresik
Inilah Hasil Diagnosa Dokter Terhadap Bayi Kepala Dua di Gresik
Inilah Diagnosa Dokter terhadap bayi berkepala dua yang lahir di Gresik...
Penulis: M Taufik | Editor: Adrianus Adhi
SURYAMALANG.COM, GRESIK - Peluang hidup bayi berkepala dua yang lahir di Gresik masih ada, meskipun dokter menyebut peluang putri kedua pasangan suami istri Dianto-Sri Wahyuni tersebut kecil.
Wiweka Marbawani, dokter yang menangani bayi berkepala dua tersebut menyatakan bahwa kondisi sang bayi memang terus membaik.
"Seperti pada umumnya, kondisi bayi itu bisa memburuk dan membaik dalam hitungan menit ke jam. Tapi sejauh ini, kondisinya memang bagus," kata Wiweka di RSUD Ibnu Sina Gresik, Rabu (10/8) siang.
Dijelaskan, kelahiran anak dari pasutri yang tinggal di Kelurahan Indro, Kecamatan Kebomas, Gresik, itu secara medis disebut dicephalic parapagus. Yakni bayi yang lahir dengan satu tubuh namun dua kepala.
Bayi itu memiliki satu badan dengan satu jantung, satu paru-paru dan satu dubur, tapi kepalanya dua.
“Ini bukan kembar siam seperti pada umumnya. Di Rumah Sakit Ibnu Sina, ini yang pertama.
Demikian halnya dari hasil koordinasi dengan RSUD Dr Soetomo, dari enam kembar siam yang ditangani di sana, juga ini yang pertama kali,” papar dokter berjilbab tersebut.
Ditanya tentang dugaan penyebab terjadinya bayi kembar siam atau yang seperti ini, pihaknya juga mengaku tidak mengetahui secara pasti. Apalagi, bayi dua kepala tersebut terbilang terlambat diketahui kondisinya karena sejak berada di dalam kandungan tidak pernah di-USG (ultrasonografi).
Bayi yang lahir pada Selasa (9/8) pukul 08.27 WIB itu terus mendapat perhatian serius tim dokter.
Namun, sejauh ini hanya bisa dilakukan monitoring dan perawatan untuk pertolongan sementara sambil terus berkoordinasi dengan RSUD Dr Soetomo Surabaya.
"Dari pihak RSUD Dr Soetomo, tidak disarankan untuk dirujuk ke sana. Dan memang bayi dicephalic parapagus tidak bisa dilakukan operasi pemisahan. Karena kepalanya ada dua, tapi hanya satu tubuh," sambung Wiweka.
Ditanya tentang peluang bertahan sang bayi, dengan suara lirih dirinya menjawab bahwa peluangnya kecil.
Bahkan, dirinya sempat menyebut bahwa peluang bagi bayi yang hingga hari kedua belum sempat merasakan air susu ibunya ini hanya sekitar satu persen.
Tapi namanya juga hidup, semua tetap apa kata Tuhan. Bayi yang terlihat sangat sehat saja, tidak menutup kemungkinan meninggal dunia.
"Kami hanya bisa berusaha maksimal untuk melakukan perawatan,” ujar Diretur Utama RSUD Ibnu Sina dr Endang Puspitowati.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/berita-gresik-jawa-timur-kisah-bayi-kembar-berkepala-dua_20160810_200303.jpg)