Breaking News:

Blitar

Kemiskinan Masih Menghantui Kabupaten Blitar, Inilah Langkah Yang Dilakukan Pemerintah . . .

Meski trennya cenderung menurun tiap tahun, namun kemiskinan masih sangat dirasakan oleh banyak warga Kabupaten Blitar

Penulis: Imam Taufiq | Editor: eko darmoko
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Ilustrasi hunian warga miskin 

SURYAMALANG.COM, BLITAR - Meski trennya cenderung menurun tiap tahun, namun kemiskinan masih sangat dirasakan oleh banyak warga Kabupaten Blitar. Berdasarkan data di Kementerian Sosial, jumlah rumah tangga sangat miskin (RTSM) di Kabupaten Blitar mencapai sekitar 68.935 kepala keluarga (KK). Memang, jika dibandingkan tahun lalu, telah terjadi penurunan sekitar 3.500 ribu karena hanya berjumlah 72.525 KK.

"Tiap tahun itu, telah terjadi penurunan terus. Mungkin saja mereka sudah ada perbaikan taraf hidupnya. Misalnya, anaknya sudah ada yang bekerja atau ada anggota keluarganya yang bekerja ke luar negeri, sehingga sudah ada penghasilan," kata Sumarsono, Kabid Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial Pemkab Blitar, Kamis (18/8/2016).

Menurutnya, jumlah orang miskin diketahui sebanyak itu berdasarkan data penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Itu juga divalidkan dengan data statistik dan laporan camat per enam bulan sekali. Untuk membantu taraf hidupnya, pemerintah pusat memberikan bantuan tiap tahun atau yang diberi nama RTSM.

"Besar kecilnya bantuan yang diterima mereka itu tak sama. Itu tergantung dari kriteria dalam keluarga itu," paparnya.

Misalnya, tambah dia, jika dalam keluarga miskin itu ada ibu hamil dan anak pra sekolah, mereka mendapatkan bantuan Rp 1,2 juta per tahun. Lain lagi, jika di rumah tangga miskin itu, punya anak sekolah SD, mereka hanya dapat tambahan bantuan Rp 450 ribu sehingga total menerima Rp 1.650 juta per tahu. Beda lagi, kalau mereka punya anak sekolah SMP, mereka dapat tambahan Rp 750 ribu sehingga total Rp 1.950 juta per tahun.

Lebih besar lagi, jika mereka punya anak sekolah SMA, akan mendapatkan tambahan Rp 1 juta sehingga total Rp 2,2 juta. "Jika di keluarga itu memiliki kriteria semuanya, mulai ada ibu hamil, anak pra sekolah, punya anak sekolah, SD, SMP, SMA, ya dapat bantuan maksimal atau sebesar Rp 3,9 juta per tahun," ujarnya.

Sampai kini, jumlah penerima bantuan RTSM itu baru sekitar 23.378 KK sehingga belum keseluruhan orang miskin menerimanya. Alasan Sumarsono, karena belum disetujui oleh pemerintah pusat, meski datanya sudah lama dilaporkan.

"Sisa yang belum mendapatkan bantuan itu sudah lama kami ajukan ke pusat, namun belum juga di-ACC. Katanya, itu disuruh mengantre karena pasti akan mendapat giliran nanti," ungkapnya.

Untuk dikategorikan keluarga sangat miskin, harus memenuhi 14 kriteria. Di antaranya, luas bangunan rumahnya hanya 8 m2, lantai tanah, dinding bambu, tak punya fasilitas buang air besar, tak ada listrik, memasak dengan kayu bakar, dll.

"Tahun ini, kami mendapatkan dana RTSM Rp 41,4 miliar dari pemerintah pusat. Itu akan dicairkan empat tahap. Sementara, kami juga menyiapkan dana pendamping Rp 325 juta dari APBD. Itu buat operasional petugas, yang mendata di lapangan, misalnya, verifikasi data, biaya tim honorer, dll.

Menanggapi hal itu, Lutfi Aziz, ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Blitar mengatakan, kriteria menentukan orang miskin tak bisa dihitung seperti hitungan matematika. Misalnya, kalau lantainya tanah, kemudian dikategorikan orang miskin, itu keliru.

"Banyak yang rumahnya sudah berkeramik namun buat makan saja susah, apalagi sejahtera. Terus, bagaimana cara menghitungnya, kalau jumlah orang miskin itu turun? Buktinya, jumlah orang yang berobat dengan membawa kartu miskin, kian banyak, belum lagi kriteria lainnya. Misalnya, jumlah anak yang tak bisa melanjutkan sekolah atau hanya sampai SD saja juga tetap banyak," ungkapnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved