Malang Raya
Melestarikan Jajanan Tradisional, Thiwul dan Gathot dari Malang Tembus ke Pasar Hongkong
Ada satu mitra kerja dari Hongkong, yakni Mr Wong yang sampai datang ke Kota Malang hanya demi ingin tahu produksi usaha makanan ndeso ini
Penulis: Sany Eka Putri | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM - Bagi sebagian orang, terutama masyarakat dari desa dan kampung, pasti tak asing dengan makanan thiwul dan gathot. Jajanan pasar tradisional ini, bagi sebagian orang memiliki daya tarik tersendiri. Bahkan, dijaman serba ada ini, jajanan ini hampir jarang ditemui.
Yosea Suryo Widodo (36), berusaha untuk melestarikan makanan tradisional ini. Yakni dengan membuat thiwul dan gathot instan. Berawal dari usaha ayahnya, Yosea meski hanya lulusan SMA, sukses menjadi generasi kedua dari usaha yang sudah ada sejak 1994.
Melalui cerita ayahnya, di kampung halamannya yakni di Desa Tlogorejo, RT 16 RW 06, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, pada tahun 90an, orang desa sangat menyukai makanan thiwul dan gathot. Bahkan telah menjadi makanan keseharian. Sejak saat itu, ayahnya memiliki ide untuk membuat usaha thiwul dan gathot instan.
“Ayah kebetulan punya ladang kebun singkong sendiri di belakang rumah. Jadi waktu itu kalau mau makan, ya tinggal ambil di ladang kalau lagi panen. Olahannya yang dibuat selalu gathot dan thiwul. Jadi makanan sehari-hari. Akhirnya timbullah ide untuk membuat usaha itu,” tuturnya saat ditemui di kediamannya di Puri Cempaka Putih 2, Selasa (30/8/2016).
Saat memulai, ayahnya mendapat singkong dari kebun sendiri. Untuk membuat makanan ini menjadi kering, juga menggunakan olahan tangan dengan bantuan alat seadanya. Setelah bisa menghasilkan gathot dan thiwul instan tanpa bahan pengawet, ditawarkan dan dijual di sekitar desa di Kabupaten Malang. Namun, yang ia dan ayahnya dapat hannya ejekan dari tetangga sekitar.
“Kami diejek. Mereka banyak yang bilang, kalau mereka bisa membuat thiwul dan gathot sendiri. Akhirnya, saya yang membawa dan perkenalkan makanan ini ke kota. Sempat tidak percaya diri, tapi saya beranikan menawarkan ke kantor dinas, lalu ke pengendara mobil yang juga kelas menengah ke atas. Alhasil, banyak yang mencari. Bahkan ada yang bilang kalau ini makanan yang selama ini mereka cari-cari,” ungkap dia sembari mengenang masa itu.
Sejak saat itu, produksi thiwul dan gathot dengan nama brand Thiwul Heboh dan Gathot Heboh dikenal masyarakat luas. Terutama bagi kelas menengah ke atas. Bahkan setiap bulan, menunjukkan omset yang terus naik. Saat ini saja, rata-rata omset yang bisa diraup oleh Yosea sekitar Rp 50 juta. Setiap harinya, bisa memproduksi 400 bungkus dengan masing-masing bungkus seberat 400 gram. Belum lagi, ada pemesan langganan di Hongkong.
Dikatakannya, pemasaran Thiwul Heboh dan Gathot Heboh ini sudah dijual di toko Indo yang ada di Hongkong. Ada satu mitra kerja dari Hongkong, yakni Mr Wong yang sampai datang ke Kota Malang hanya demi ingin tahu produksi usaha makanan ndeso ini.
“Sempat di bawa ke Hongkong oleh TKI. Sampai sekarang jadi langganan. Setiap bulannya mengirim ke sana. Saat itu, produksi thiwul dan gathot instan cuma dari Malang saja. Dan hanya produksi ini yang bisa dijamin mutu dan kualitasnya. Meskipun tanpa bahan pengawet, bisa tahan selama satu tahun,” kata Yosea yang juga tergabung di Paguyuban UKM Amazing Malang Raya (AMR) ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/yosea-suryo-widodo-generasi-kedua-yang-meneruskan-usaha-thiwul-dan-gathot-instan_20160830_101808.jpg)