Malang Raya
Aremanita yang Satu Ini Selalu Ketagihan Naik Gunung
“Haram bagi kami untuk meninggalkan sampah di gunung selama perjalanan. Secara otomatis hal itu membuka wawasan kami untuk saling mengingatkan,"
Penulis: Sany Eka Putri | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Setiap orang memiliki rasa takut akan sesuatu yang berbeda. Seperti yang dirasakan Novianita Ayu Sejati (25). Perempuan muda yang energik ini ternyata sudah berkali-kali mendaki gunung di Indonesia.
Ai-panggilannya- sudah mendaki sejak tahun 2009. Berawal karena ajakan teman, tetapi ternyata Ai memiliki rasa takut akan ketinggian. Apalagi mendaki gunung. Namun, berbekal nekat, Ai memberanikan diri untuk mendaki gunung.
“Saya itu takut ketinggian. Apalagi kalau mendaki sampai puncak. Tetapi dalam diri saya ini terus bergejolak dan mendorong keinginan saya untuk menutupi rasa takut dengan mendaki gunung. Akhirnya setelah sampai puncak, dengan perjuangan yang sungguh luar biasa untuk bisa mencapai puncak gunung,” tuturnya yang pertama kali mendaki di Gunung Panderman, Jumat (9/9/2016).
Diakuinya, pertama kali mendaki dan ketika berhasil mencapai puncak gunung, justru Ai malah takut untuk turun gunung. Karena baru saat itu baru pertama kali ia mendaki, ia mendapat dukungan dari kawan-kawannya agar tidak menyerah untuk melakukan perjalanan kembali ke kota.
“Begitu sampai rumah, yang didapat itu rasa kangen akan perjuangan saat mendaki. Ya jadinya ketagihan. Dan sampai sekarang terus deh mendaki,” imbuh alumnus Wearness jurusan Desain Grafis ini.
Sulung dari dua bersaudara ini, pernah mendaki Gunung Panderman, Gunung Arjuno, Gunung Welirang, Gunung Slamet. Dan Ai mendaki gunung setiap dua bulan sekali. Baginya, banyak hal positif yang didapat ketika mendaki.
Seperti menambah keluarga baru, menambah pengalaman, serta mengajarkan bagaimana untuk mencintai alam semesta dengan ikut merawat alam sekitar. Oleh karena itu, tak heran jika semua pendaki termasuk dirinya wajib untuk peduli terhadap hal-hal kecil seperti sampah.
“Haram bagi kami untuk meninggalkan sampah di gunung selama perjalanan. Secara otomatis hal itu membuka wawasan kami untuk saling mengingatkan antar pendaki agar yuk peduli dengan alam. Karena akan sangat disayangkan, sekarang kita menikmati perjalanan indah tapi beberapa tahun kemudian anak cucu kita tidak bisa menikmati alam karena kesalah kecil membuang sampah sembarangan,” ungkap Aremanita ini.