Jumat, 24 April 2026

Malang Raya

Kota Malang Bakal Punya Rumah Potong Unggas pada 2017

"Kami harus berkoordinasi dengen pengusaha unggas juga. Nanti RPU maslaah limbah harus dicarikan. Saya pikir limbah unggas kan tak begitu banyak,"

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM/Aflahul Abidin
Kepala Dinas Pertanian Kota Malang Hadi Santoso 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Dinas Pertanian Kota Malang, Jawa Timur akan membangun Rumah Potong Unggas (RPU) tahun depan. Rencananya lokasi RPU ditempatkan di Kelurahan Jodipan, Kecamatan Kedungkadang.

Pemilihan wilayah disesuaikan dengan lokasi titik ramai pusat penjualan unggas.

"Kami sudah menyiapkan lokasi di sana. Pemkot Malang ada lahan," kata Kepala Dinas Pertanian Kota Malang Hadi Santoso, Selasa (20/9/2016).

Menurut dia, pembangunan RPU tidak membutuhkan lahan besar. Kisaran kebutuhan hanya 1. 000 meter persegi (m²).

Sony, sapaan akrabnya, akan mengajukan usulan pembangunan rumah potong itu sebesar Rp 2,5 miliar pada APBD tahun mendatang. Biaya paling besar digunakan untuk penyediaan alat dan sarana prasarana.

"Kalau bangunannya bisa berupa hanggar saja. Seperti itu sudah sangat cukup," ungkapnya.

Untuk alat yang bakal dipakai, Dinas Pertanian tak menutup kemungkinan menggandeng alat bikinan perguruan tinggi di Kota Malang. Syaratnya, alat itu harus tersertifikasi agar tidak bermasalah saat digunakan.

Kehadiran RPU diharapkan menjadi satu-satunya tujuan para pelaku usaha unggas memotongkan hewan yang mereka jual. Sony mengatakan, Kota Malang saat ini belum memiliki sentral pemotongan unggas.

Para pengusaha banyak memanfaatkan saja pemotongan unggas di pasar-pasar. Padahal, tingkat aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH) pemotongan semacam itu belum bisa dipertanggjawabkan.

Sementara RPU yang akan dibangun nanti bakal disertifikasi. Para pengelolanya, lanjut dia, harus berasal dari orang yang ahli di bidangnya.

"Kami harus berkoordinasi dengen pengusaha unggas juga. Nanti RPU nanti maslaah limbah harus dicarikan. Saya pikir limbah unggas kan tidak begitu banyak. Hanya darah dan kotoran saja. Bulunya kan bisa dipakai untuk daur ulang," imbuhnya.

Dinas Pertanian belum memikirkan masalah pengelolaan RPU. Sony bilang, bisa saja tempat itu nanti berupa UPT atau badan usaha. Hal itu nanti bergantung pada kebijakan Wali Kota. Yang penting, ungkapnya, penyediaan tempat dan program pembuatan RPU dapat terealisasi terlebih dulu.

Sekertaris Dinas Pertanian Kota Malang Yudi Broto menambahkan, kuota unggas yang dibutuhkan Kota Malang saban hari sekitar 30.000 ekor. Sebagian besar adalah ayam. Selain itu ada juga bebek dan sedikit mentok. Ia menyebut, pembangunan RPU penting untuk penyediaan daging unggas yang higenis. Dengan kuota sebanyak itu, ia berpandangan kebutuhan RPU penting.

"Blitar saja punya RPU. Kalau kita (Kota Malang) tidak punya kan kurang pas. Soalnya kita kota besar dengan konsumsi yang tinggi," ungkapnya.

Pada tahun ini, Dinas Petanjan juga gagal mengadakan mobil potong unggas keliling. Sony bilang, batalnya pengadaan kendaraan itu akibat kondisi keuangan yang tidak memungkinkan.

Nah, pembangunan RPU nanti juga bakal dibarengi dengan kendaraan itu. RPU akan menjadi pihak pengelola keberadaan mobil itu. Rencananya, mobil unggas itu berupa mobil dump truck yang dimodifikasi.

Sekadar informasi saja, suplai unggas potong di Kota Malang selama ini dipenuhi dari tiga wilayah, yakni Malang selatan, Blitar, dan Lumajang. Tiga daerah itu menguasai 80 persen suplai. (aflahul abidin)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved