Malang Raya

Mbois Ilakes, Ada Salon Kecantikan di Lapas Wanita Kota Malang, Yuk Kita Intip Ker!

Salon itu menjadi ajang melatih ketrampilan warga binaan, terutama warga binaan yang hendak bebas dari Lapas.

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM/Sri Wahyunik
Beginilah aktivitas salon kecantikan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II-A Malang 

SURYAMALANG.COM, SUKUN - Perempuan berjilbab warna hitam mengolesi krim ke rambut seorang pelanggan Salon An-Nisa. Rambut yang sudah diberi krim kemudian dijepit secara rapi. Perempuan berjilbab itu, DW, sedang melakukan proses 'smoothing' terhadap rambut kliennya.

DW memakai kaus berwarna oranye bertuliskan Lembaga Pemasyarakatan dan nomor bloknya. Begitu juga teman DW, SK. DW dan SK setiap hari mengelola salon An-Nisa, salon yang berada di dalam Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II-A Malang yang berada di Kecamatan Sukun Kota Malang.

Ketika SURYAMALANG.COM mendatangi salon itu, hanya ada dua klien. Satu klien juga warga binaan di Lapas, dan satu lagi petugas Lapas. Seorang warga binaan memilih layanan 'smoothing' untuk rambutnya, sedangkan sang petugas Lapas memilih layanan keramas.

Meski berada di dalam Lapas, salon itu seperti halnya salon yang bisa dijumpai di Kota Malang. Terdapat satu tempat tidur untuk fasilitas facial, juga ada satu set kursi keramas, tiga kursi layanan di depan cermin, serta kursi tunggu.

Dindingnya juga berwarna sejuk. 'Wallpaper' menghiasi dinding ruangan berukuran 3 x 6 meter itu. Sesuai namanya, salon itu memang dikhususkan untuk perempuan. "Dulu nama salon ini salon Laras, terus kemarin peresmian lagi dan namanya diubah menjadi salon An-Nisa," ujar Kepala Lapas Wanita II-A Malang, Ngatirah.

Salon itu menjadi ajang melatih ketrampilan warga binaan, terutama warga binaan yang hendak bebas dari Lapas. Mereka yang terampil menjadi penata kecantikan di salon itu, diharapkan bisa memiliki usaha dan bisa mandiri setelah bebas.

"Pada dasarnya anak-anak sini banyak juga yang memiliki bekal ketrampilan salon. Bahkan ada yang memiliki salon, tetapi masuk sini karena kena kasus narkoba," imbuh Ngatirah.

DW dan Sk, merupakan contoh warga binaan Lapas Wanita Sukun yang memang memiliki modal ketrampilan tata rias. "Saya kerja di salon sebelumnya, jadi sudah bisa," ujar DW. DW sebelumnya bekerja di sebuah salon di Surabaya. Dia menjadi penghuni Lapas karena narkoba.

Begitu juga SK. Koleganya itu bahkan memiliki salon di tempat asalnya Yogyakarta. SK juga masuk ke Lapas karena kasus narkoba.

Berdasarkan jadwal, DW akan bebas bulan Oktober nanti. Ketika keluar Lapas, perempuan itu tidak keluar dengan tangan kosong. Ia akan membawa hasil kerjanya selama mengelola salon di Lapas.

"Alhamdulillah bisa untuk sangu. Berapa jumlahnya saya belum tahu, karena nanti akan diberikan ketika saya bebas," ujarnya. Nantinya posisi DW akan digantikan oleh warga binaan lain, sebagai proses regenerasi.

SK masih akan tetap mengelola salon itu hingga bebas. 'Saya mengajukan pembebasan bersyarat 2017. Intinya ketika pengelola salon sudah hendak bebas, akan digantikan oleh warga lain, jadi selalu ada," imbuh SK.

Klien salon itu paling banyak adalah sesama warga binaan. Dalam sehari, pengelola salon bisa mengerjakan delapan - 10 orang, dalam keadaan sepi. Kalau sedang ramai, 15 orang bisa berkunjung ke salon yang buka mulai pukul 09.00 hingga 16.30 Wib itu. Tarif nyalon di tempat itu mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 300.000, tergantung jenis layanan.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved