Malang Raya

Soesmedi dan Supatmi, Merakit Wayang Bukan Untuk Bisnis, Tapi Demi Melestarikan Budaya

kalau mementingkan bisnis nggak ada habisnya. Tapi kami membuat wayang ini karena ingin melestarikan budaya wayang

Penulis: Sany Eka Putri | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM/Sany Eka Putri
Sri Supatmi dan Soesmedi, perajin wayang asal Kota Malang, menunjukkan wayang yang mereka buat dalam sebulan ini. 

SURYAMALANG.COM, SUKUN - Sri Supatmi (71) berpakaian santai dan terlihat asik bermain dengan cicitnya di depan rumahnya saat ditemui SURYAMALANG.COM, Sabtu (1/10/2016) pagi. Istri dari pewayang kondang di Kota Malang, Soesmedi (78) itu sedang beristirahat dari garapannya mewarnai wayang.

Kediaman mereka di Jl Peltu Sujono, yang menjadi lokasi pembuatan wayang kulit tersebut, sangat sederhana. Di pojok ruangan, ada kotak besar. Supatmi membuka kotak itu, di dalamnya banyak tumpukan wayang kulit yang disimpan.

Wayang kulit dari berbagai karakter ini menanti untuk dibeli. Bukan disembunyikan, tetapi memang akhir-akhir ini usahanya di bidang pembuatan wayang kulit, sedang sepi. Mereka yang sudah menjalani usaha ini sejak 1989, tidak menentu mendapatkan pemesan wayang. Apa yang mereka lakukan bukanlah untuk mencari untung di ranah bisnis, melainkan mereka ingin melestarikan wayang untuk generasi penerus.

"Wah, kalau mementingkan bisnis nggak ada habisnya. Tapi kami membuat wayang ini karena ingin melestarikan budaya wayang. Sekarang sepi belum ada yang pesan. Makanya penghasilan tidak menentu," tutur Supatmi.

Kecintaannya terhadap seni membuat wayang kulit ternyata sudah mendarah daging. Soesmedi yang merupakan pensiunan TNI AD ini bersikukuh tetap menjadi perajin wayang kulit. Soesmedi-lah yang mengukir dan membuat wayang kulit, sedangkan Supatmi hanya bagian mewarnai saja.

"Kadangkala saya ingin membuat wayangnya, tapi sama bapak tidak diperbolehkan. Saya hanya ingin meneruskan bakat yang dimiliki bapak. Takutnya kalau bapak sudah sepuh," harap ibu dari enam orang anak ini.

Supatmi menceritakan, kegemaran suaminya dalam membuat wayang memang patut diacungi jempol, sangat teliti, dan cekatan. Mulai dari bentuk tangan, ukiran, hingga corak. Dari keenam anaknya, ada yang meneruskan bakat seni yang dimiliki Soesmedi.

Mereka mendapatkan bahan kulit dari pabrik kulit sapi bekas tempat Soesmedi bekerja. Mereka membeli kulit limbah ini tak menentu. Kadang 50 kilogram, 20 kilogramnya mereka dapat sembilan lembar limbah kulit sapi. Atau kadang bahkan kalau ada uang mereka membeli bahan dasar.

"Sesuai kebutuhan. Kalau sekarang kadang ada uang 100 ribu rupiah, beli bahan. Paling dapat berapa kilo," imbuhnya.

Satu lembar kulit sapi yang ia pakai yakni ukuran 1 meteran, bisa menghasilkan tiga wayang. Sebelumnya, sisa dari kulit sapi itu mereka buat lauk pauk sambal goreng. Tapi sekarang mereka buat untuk souvenir gantungan kunci ukuran mini.

"Yang kecil-kecil ini baru. Kami manfaatkan juga untuk wayang kecil. Biar kalau yang besar ini kebesaran, setidaknya bisa mengenal dan belajar dari yang kecil-kecil," sambung Soesmedi.

Selain itu, wayang yang ia buat juga ada tipenya. Yakni mulai dari KW 1, KW 2, dan KW 3. Harganya juga berbeda. Semisal, wayang Gatot Kaca KW 1 mereka jual dengan harga Rp 500 ribu. KW 2 ia jual dengan harga Rp 400 ribu, sedangkan KW 2 ia jual Rp 200 ribu.

"KW ini ditentukan dari jenis kulit dan kualitas," imbuhnya.

Biasanya, kalau laris bisa menjual sekitar 15 wayang KW 1. Dan bisa bertahan sampai tiga bulan. Lama pembuatan wayang ini bisa selesai sekitar dua minggu saja. Tergantung tingkat kesulitan. Karakter wayang yang ia buat ada macam-macam, Gatot Kaca, Arjuna, Bima, Werkudara, dan masih banyak lagi.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved