Gempa Malang

Tak Hanya di Malang, Gempa Ternyata Juga Rusak Rumah di Jember

"Kalau sepeda motor bisa saya cari lagi, yang penting saya dan keluarga selamat," kata Hobir.

Editor: Aji Bramastra
haorrahman, istimewa
Kondisi rumah Hobir, warga Desa Klayu, Kecamatan Mayang, Jember, yang rusak akibat gempa. Foto diambil 17 November 2016. 

SURYAMALANG.COM - Gempa bumi 6,2 SR di Kabupaten Malang, pada Rabu (16/11/2016) malam, juga berdampak di Jember.

Sejumlah rumah di Jember dilaporkan rusak.Tidak hanya Jember, kabupaten tetangga, Banyuwangi juga merasakan getaran akibat gempa tersebut.

"Ada beberapa rumah yang rusak berat karena gempa ini. Tidak ada korban jiwa," kata Kapolres Jember, AKBP Sabilul Alif kepada Surya (TRIBUNnews.com Network), Kamis (17/11/2016).

Berdasarkan laporan yang diterima, ada tiga rumah yang rusak berat. Polisi dan TNI bersama warga membantu warga membersihkan puing rumah yang roboh.

"Polisi bersama TNI bahu-membahu membantu warga," kata Sabilul.

Salah satu rumah yang roboh adalah rumah Hobir (54), warga Desa Klayu, Kecamatan Mayang, kabupaten Jember.

Menurut Hobir, saat kejadian dia bersama anggota keluarganya langsung keluar rumah agar tidak tertimpa bangunan.

Hobir mengatakan, kejadian malam itu begitu cepat. Bahkan warga sekitar panik dan keluar rumah termasuk dirinya.

“Yang penting saya dan keluarga bisa selamat," katanya.

Dari kejadian tersebut, satu motor miliknya rusak karena tertimpa reruntuhan rumah.

"Kalau sepeda motor bisa saya cari lagi, yang penting saya dan keluarga selamat," kata Hobir.

Selain rumah Hobir, rumah roboh lainnya adalah milik Suyati (55), di Dusun Krajan, Desa Menampu.

Saat kejadian, Suyati bersama ketiga anaknya sedang berada di dalam rumah berukuran 5x7 meter, karena keadaan lampu padam, dirinya dan keluarga tidak bisa keluar karena terjebak bangunan semi tembok tersebut.

Mereka sempat bersembunyi di bawah meja.

Selain membuat tiga rumah roboh, gempa bumi tersebut juga membuat beberapa rumah retak di beberapa wilayah Jember.

Berdasarkan informasi yang dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Karang Kates menyebutkan gempa bumi 6,2 Magnitudp di titik koordinat 9.32 lintang selatan (LS) dan 113.12 bujur timur (BT), namun tidak berpotensi tsunami tepatnya terjadi pada Rabu (16/11) pukul 22.10.

Getaran gempa juga terasa di Banyuwangi. Meski demikian, gempa yang berlangsung sekitar dua hingga tiga detik tersebut cukup membuat warga keluar rumah. Apalagi, Banyuwangi pernah mengalami tsunami.

Misnadi, warga Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi mengatakan, sempat terasa getaran sekitar 2-3 detik.

"Warga langsung keluar rumah. Banyak yang teriak lindu, lindu (gempa)," kata Misnadi.

Setelah gempa masih banyak warga yang memilih untuk berada di luar rumah, sambil menunggu perkembangan selanjutnya.

"Setelah gempa warga masih menunggu di luar rumah sambil menunggu perkembangan. Tapi ternyata tidak ada apa-apa," kata Misnadi.

Anjar Triono Hadi, bagian analisa dan Prakiraan BMKG Banyuwangi mengatakan, dampak di Banyuwangi tidak terlalu besar. Skala getaran yang dialami di Banyuwangi termasuk kecil.

"Di Banyuwangi memang terasa tapi dalam skala yang kecil. Terjadi sekitar 2-3 menit, dan tidak berpotensi tsunami," kata Anjar.

Anjar mengatakan, untuk berpotensi tsunami minimal gempa berskala 7 SR dengan kedalaman 10 kilometer.

"Kami minta agar masyarakat tidak mudah panik, dan jangan mudah menerima kabar adanya tsunami. Sudah ada alat pendeteksi tsunami di Pancer dan Muncar," kata Anjar.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved