Gadget
Ngeri, Anak-anak SD di Ponorogo ini Terpaksa Belajar dengan Bertaruh Nyawa
"Kami takut kerangka atap yang ditopang ambruk dan menimpa kami. Apalagi sekarang, musim angin kencang dan gempa bumi,"
Penulis: Rahadian Bagus | Editor: Aji Bramastra
"Tiangnya berada di tengah ruang kelas, jadi sekarang kursi dan meja pun ditata berbeda tidak bisa seperti dulu," jelas Agus.
Agus mengatakan, rangka dari kayu itu patah karena sudah termakan usia. Selain itu kondisi tembok bangunan ruang kelas juga sudah ada yang retak di beberapa bagian.
Dikatakannya, pegawai UPTD Pendidikan Kecamatan Jetis sudah melihat kondisi ruang kelas, sekitar dua hari setelah rangka atap ditopang bambu.
Namun hingga saat ini, belum ada tindak lanjut dari Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo. Padahal, sekolah tidak memiliki dana untuk merenovasi.
"Kalau ada ruangan lain tentu kegiatan belajar mengajar siswa dipindah di ruang lain. Sayangnya, kami tidak memiliki ruang lainnya," terang dia.
Agus berharap, Pemkab Ponorogo dapat segera mengatasi masalah ini, sehingga kegiatan belajar para murid tidak terganggu. (*)