Malang Raya
Sebenarnya Sungai di Kota Malang Mampu Tampung Air Agar Tak Banjir, Tapi . . .
Banjir di Kota Malang bisa surut dalam waktu dua atau tiga jam. Namun Pemkot Malang harus memikirkan rencana lima sampai 10 tahun ke depan.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Saluran pematusan harus ditinjau rutin karena ancaman banjir di Kota Malang akan membesar. Kondisi ini akibat perkembangan penduduk dan alih fungsi lahan.
“Kapasitas desainnya jika tidak di-upgrade tidak akan menampung air,” kata Dr Pitojo Tri Juwono MT, Dekan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB), Rabu (30/11/2016).
Menurutnya, daya tampung sungai di Kota Malang sebenarnya masih cukup, seperti Sungai Amprong dan Sungai Metro. Karena tidak ada yang menampung, air meluber lari ke jalan.
“Drainase di Malang dibangun untuk estetika, seperti ditutup. Akibatnya air sulit masuk,” paparnya.
Banjir di Kota Malang bisa surut dalam waktu dua atau tiga jam. Namun Pemkot Malang harus memikirkan rencana lima sampai 10 tahun ke depan. Sebab, jumlah penduduk terus meningkat, dan ruang terbuka hijau selalu berkurang.
“Banjirnya memang hanya dua sampai tiga jam, tetapi dampaknya luar biasa,” tambahnya.
Dia juga menyarankan warga memiliki sumur resapan untuk menampung air hujan. Warga juga bisa menggunakan sistem lebih sederhana dan murah, yaitu biopori.
Menurutnya, keberadaan tempat duduk di sejumlah taman mengakibatkan lahan kedap air. Air hujan tidak bisa meresap ke tanah.
“Cukup dikonversi saja. Misalkan lahan kedap air luasnya berapa dikonversi dengan jumlah sumur resapan di sekitarnya,” imbuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/dr-pitojo-tri-juwono-mt-dekan-fakultas-teknik-universitas-brawijaya-ub_20161130_222324.jpg)