Nasional

Kontes Klakson ‘Om Telolet Om’ Disambut Baik Sopir Bus, Katanya Bisa Meredakan Stres dan Menghibur

"Mungkin yang bilang telolet dilarang itu nggak punya temen, nggak gaul," ujar Sukanta (48), sopir bus PO Agramas jurusan Jakarta-Bogor

tribunbogor.com
Ilustrasi 

SURYAMALANG.COM - Demam ‘Om Telolet Om’ hingga kini masih menjadi perbincangan hangat di Indonesia dan telah merembet ke luar negeri.

Di tengah kebahagiaan kecil itu, sejumlah sopir bus tak habis pikir terhadap kabar yang berhembus bahwa membunyikan klakson telolet akan dilarang.

"Mungkin yang bilang telolet dilarang itu nggak punya temen, nggak gaul," ujar Sukanta (48), sopir bus PO Agramas jurusan Jakarta-Bogor, ditemui di Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (22/12).

Sukanta beranggapan bahwa pihak yang menyebut membunyikan klakson telolet dilarang hanya salah kaprah.

Menurutnya, yang salah adalah apabila klakson yang dipakai menyalahi standar yang ditentukan pemerintah.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan, seperti dijelaskan Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta, dijelaskan bahwa ambang batas tingkat kebisingan suara klakson maksimal 118 dB(A)/desibel dan tidak boleh membahayakan pengguna kendaraan lainnya, karena suara yang ditimbulkan mengganggu konsentrasi.

Sukanta sendiri mengaku bus yang ia kemudikan menggunakan klakson sesuai standar. Dia mempersilakan pemerintah memeriksa klakson tiap kendaraan jika memang diperlukan.

"Bus itu ukuran klaksonnya memang rata-rata 117-118 (desibel)," katanya.

Di sisi lain, alih-alih melarang, Kementerian Perhubungan justru punya rencana mengadakan kontes klakson 'Om Telolet Om' dalam waktu dekat. Bagyo (34), sopir bus PO Hasta Putra rute Solo-Jakarta, menyambut baik rencana itu. Menurutnya, ini pertanda bahwa pemerintah peduli rakyat kecil.

"Bagus juga buat melepas stres sopir bus, supaya tidak bosan," katanya.

Dikatakan Bagyo, pemburu klakson telolet mulai anak-anak kecil hingga dewasa banyak terdapat di wilayah Jawa Tengah. Setidaknya, terdapat sepuluh titik pemburu telolet yang ia layani setiap hari. Dia merasa senang karena bisa membahagiakan anak-anak.

"Awalnya, ya, bingung juga. Ngapain anak-anak SD teriak di pinggir jalan. Nggak tahunya cuma minta dibunyiin klakson. Ya, bagus juga buat melemaskan otot habis capek nyupir," bilang Bagyo.

Pantauan Warta Kota, Kamis (22/12/2016), belum ditemukan adanya pemburu klakson telolet di kawasan Lebak Bulus yang dilalui bus-bus AKAP.

Editor: eko darmoko
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved