Malang Raya
Tak Hanya Mahir Naik Gunung, Pecinta Alam dari Cansabalas Ini Juga Mahir Bikin Miniatur Rumah Pohon
"Dari pada mereka nganggur tidak jelas saya ajak untuk buat kerajinan ini. Meskipun hanya sekedar menghaluskan kayu saja mereka katanya tidak telaten"
Penulis: Sany Eka Putri | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM, BATU - Berpredikat sebagai pecinta alam sudah dilakoni Samadi Bajang (58) sejak usia muda. Saat ini, di usianya yang tak lagi muda, ia tetap menjadi pecinta alam, aktivitas pendakian tetap ia jalani, setidaknya gunung aktif di Jawa Timur sudah ia tiduri.
Namun, ketika ditemui di kediamannya di Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, ia tampak sibuk memahat kayu-kayu bekas. Ternyata Bajang, panggilannya, sedang membuat miniatur rumah pohon, Rabu (15/3/2017). Kerajinan itu baru ia buat sekitar awal Januari 2017. Bajang bercerita, dirinya bercita-cita membangun rumah pohon di jalur pendakian Gunung Arjuna, Desa Tegal Sari.
"Tidak hanya rumah pohon, buat arena camping, outbond. Iseng-iseng cari di internet, kenapa kok gak coba buat miniatur saja dulu buat contoh. Dari situ langsung cari bahan buat miniatur rumah pohon," kata Bajang.
Tetapi, ia tidak asal membuat miniatur rumah pohon. Segala aspek, mulai ukuran, jenis pohon, bentuk bangunan rumahnya ia harus samakan ketika akan membuat rumah pohon di hutan nanti. Miniatur rumah pohon inilah yang akan dijadikan contoh ketika akan membuat rumah pohon sungguhan.
Ia mengatakan, luas hutan yang akan ia jadikan sebagai arena camping, rumah pohon itu sekitar 2 hektar. Terlebih dahulu ia harus mengurus izin dari Perhutani.
"Menyesuaikan keadaan hutannya. Miniatur yang saya buat sendiri ini ialah miniatur yang memang cocok untuk dibangun di hutan. Seperti rumah pohon menyerupai pondok. Karena tidak banyak bangunan," kata buruh tani yang juga sebagai sesepuh pendiri komunitas Pecinta Alam Cansabalas.
Bajang mengatakan, saat membuat kerajinan itu, ia mengajak anak-anak muda untuk ikut berperan membuat kerajinan. Tetapi banyak yang menolak. Alasannya, banyak di antara mereka yang mengaku tidak kreatif dan tidak telaten.
"Dari pada mereka nganggur tidak jelas saya ajak untuk buat kerajinan ini. Meskipun hanya sekedar menghaluskan kayu saja mereka katanya tidak telaten," kata Bajang kecewa.
Padahal, lanjutnya, niat Bajang baik untuk memberikan hasil tambahan kepada anak-anak muda di sekitar kediamannya. Hasil kerajinan Bajang sudah dibeli oleh beberapa orang. Ia memberikan harga sesuai kerumitan rumah pohon yang ia buat. .
Paling murah miniatur rumah pohon yang ia buat sekitar Rp 30 ribu, paling mahal Rp 200 ribu. Hibgga saat ini sudah ada sekitar 30 karya miniatur rumah pohon yang ia buat.