Breaking News:

Malang Raya

Aplikasi Coorby, Karya Anak Muda Malang untuk Pemburu Kuliner

Upaya mereka membangun aplikasi diawali pada Agustus 2016. Selanjutnya mereka membuat prototipe dan merilis aplikasi ujicobanya pada Januari 2017.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Hendrik Tukunang, founder Coorby 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Lima anak muda Malang mendirikan usaha rintisan dengan mengandalkan aplikasi Coorby. Dengan memasang apikasi ini lewat playstore, maka bisa menikmati layanannya.

Mereka adalah Hendrik Tukunang, Kavi Abdul Jabar, Mahardika Praja, Bagus Sasongko dan Danar Wijaya.

Upaya mereka membangun aplikasi diawali pada Agustus 2016. Selanjutnya mereka membuat prototipe dan merilis aplikasi ujicobanya pada Januari 2017. Sampai saat ini sudah ada 57 mitra yang digandeng untuk isian aplikasinya.

"Aplikasi ini baru kami launching pada awal Maret 2017 lalu," jekas Hendrik Tukunang, founder Coorby kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (16/3/2017). Idenya ternyata dari pengalaman pribadinya mengantar ibunya.

"Mama saya suka belanja. Bandingin harga dari satu toko ke toko lain sebelum memutuskan membeli," cerita dia. Sehingga ia mendapat ide mengapa tidak dibuat aplikasi saja. Sehingga ketika mendapatkan barang yang cocok tinggal membelinya di toko yang diinginkan.

Partner mereka antara lain persewaan futsal, skincare, barbershop, distro, kafe dan restoran di Kota Malang. Untuk restoran atau kafe, di aplikasi ini masih bersifat referensi mau kemana. Semacam katalog. Jika kita berada di satu titik, maka akan dicarikan tempat-tempat terdekat.

Jika diklik lokasinya, maka bisa keluar peta arah tempatnya. Sedang untuk barbershop, bisa untuk antrian. Sedang distro masih berupa katalog. Sedang untuk futsal bisa untuk antre bookingan.

"Sasaran kita anak muda. Mereka kan selalu mencari informasi dengan gadgetnya," kata Hendrik. Karena itu diusahakan tempat-tempat yang biasa jadi jujugan anak muda berusaha didekati untuk jadi mitra pengisi konten.

Untuk mendapatkan mitra, mereka mengaku sejauh ini mendapat apresiasi positif. "Mereka tahu usaha kami masih rintisan" kata Hendrik. Namun ada juga kendala seperti tidak bisa bertemu langsung dengan ownernya sebagai pembuat keputusan.

Sedang Kavi menyatakan untuk lebih mengenalkan aplikasinya, ia bermain di media sosial dan promosi dari mulut ke mulut. Misalkan antar teman.

Menurut Hendrik, ia masih ingin mengembangkan konten aplikasi. Seperti ada delivery dan kepadatan sebuah titik tujuan.

"Misalkan mau ke kafe X, nanti rencananya bisa diketahui apakah tempatnya sedang penuh pengunjung atau tidak. Jika penuh, maka bisa mencari referensi ke tempat lainnya," papar Hendrik.

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved