Breaking News:

Malang Raya

Gara-Gara Uang Rp 60 Juta, Suparman Kehilangan Harta Rp 1 Miliar, Lho Kok Bisa?

"Kami mohon pengajiannya ditunda dulu, nanti bisa dilakukan di tempat lain. Rumah ini akan dikosongkan," seru seorang polisi lewat pengeras suara.

Penulis: David Yohanes
Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM/David Yohanes
Polisi mengawasi proses pengeluaran barang dari pintu belakang rumah Suparman yang disita pengadilan. 

SURYAMALANG.COM, PAKIS - Suparman hanya bisa pasrah melihat petugas juru sita Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen Kabupaten Malang mengeluarkan barang-barang dari dalam rumahnya.

Rumah di Jalan Raya Bamban Nomor 9, Desa Asrikaton seharga Rp 1 miliar lebih itu disita, lantaran Suparman tidak bisa melunasi hutang Rp 60 juta.

Proses penyitaan ini sempat tertunda, karena di dalam rumah tersebut digelar pengajian.

"Kami mohon pengajiannya ditunda dulu, nanti bisa dilakukan di tempat lain. Rumah ini akan dikosongkan," seru seorang polisi lewat pengeras suara.

Suparman berkisah, tahun 2011 dirinya hutang ke salah satu bank swasta di Kota Malang. Besarnya Rp 60 juta, dengan tenggat tiga tahun dan dengan jaminan tanah seluas 217 meter persegi beserta bangunan rumahnya.

Setiap bulannya Suparman harus membayar angsuran Rp 2.300.000.

Uang pinjaman tersebut untuk pembiayaan usaha keripik buah. Namun dalam perjalanannya, usaha Suparman bangkrut karena kena tipu. Suparman tidak bisa melunasi hutangnya.

"Saya sudah bayar angsuran sebanyak sembilan kali. Jadi angsurannya saja kalau dihitung hampir Rp 23 juta," tutur Suparman.

Pihak bank kemudian melelang rumahnya, dan dimenangkan oleh Sandra, seorang perwira menengah TNI. Informasi yang diperoleh Suparman, nilai lelang hanya Rp 75 juta. Suparman sudah mengajukan protes, namun upayanya sia-sia.

Rumahnya benar-benar disita. Yang membuat Suparman geram, nilai rumahnya sungguh tidak sebanding dengan nilai hutangnya. Karena itu, Suparman menyebut penyitaan ini sebagai perampasan melalui sistem.

"Bagaimana bukan perampasan, rumah Rp 1 miliar digunakan untuk menutup hutang Rp 60 juta. Sisa uangnya ke mana itu?" sindir Suparman.

Suparman menuding, tidak pernah ada tim appraisal yang menaksir harga rumahnya. Lelang dilakukan tanpa pernah melihat nilai obyek. Karena itu Suparman menggugat semua pihak yang terlibat dalam pelelangan rumahnya.

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved