Senin, 20 April 2026

Malang Raya

Pilrek UIN Maliki Adem Ayem, Mahasiswa Mulai Sampaikan Tuntutan Ini

Mahasiswi UIN Maliki cukup bertanya-tanya, bagaimana bisa momen pemilihan rektor sampai tidak terdengar gaungnnya sama sekali.

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah | Editor: Dyan Rekohadi
istimewa
Prof Khusnuridlo dari STAIN Jember mendaftar penjaringan bakal calon Rektor UIN Maliki, Jumat (24/2/2017). 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Pemilihan Rektor (pilrek) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang telah memasuki tahap penyiapan pengiriman dokumen ke Kementrian Agama RI.

Namun sampai saat ini, gaung pilrek UIN Maliki belum sampai ke mahasiswanya. Mahasiswa hanya tahu adanya penjaringan bakal calon dan pemilihan rektor lewat banner besar yang sempat dipajang di area kampus.

Salah satu mahasiswa UIN Maliki, Shulhan mengatakan banner besar mengenai pilrek itu hanya sekadar memberitahu mahasiswa adanya pemilihan rektor. "Tapi kan tidak ada pengenalan lebih lanjut ketika para calon sudah terpilih," ujarnya pada SURYAMALANG.COM, Kamis (23/7/2017).

Apalagi ada dua calon rektor yang berasal dari luar UIN Maliki, yaitu Guru Besar STAIN Jember, Prof Dr HM Khusnuridlo MPd dan Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof Dr H Abd Haris MAg.

Salah satu mahasiswi UIN Maliki yang tidak mau disebut namanya, mengaku cukup bertanya-tanya, bagaimana bisa momen pemilihan rektor sampai tidak terdengar gaungnya sama sekali.

Memang, katanya, ada sosialisasi formal pada mahasiswa di awal sebelum masa pendaftaran bakal calon dimulai. "Namun ya hanya itu, tidak ada lagi kegiatan lanjutan. Entah itu perkenalan calon rektor ke mahasiswa atau apapun. Jadi ini yang salah siapa, siapa kurang aktif? Apakah mahasiswa, atau panitia pilrek," ujarnya.

Shulhan dan mahasiswi tersebut satu suara ketika menyatakan mahasiswa UIN Maliki membutuhkan proses pemilihan rektor yang transparan. "Mahasiswa juga ingin mengetahui pertimbangan apa yang mereka gunakan ketika memilih rektor," lanjut mahasiswi itu.

Ia mengatakan dua calon dari luar UIN Maliki itu harus banyak belajar pada calon yang berasal dari dalam UIN Maliki. "Kampus ini kan beda, tidak hanya belajar di dalam kelas tapi ada kewajiban Ma'had bagi para mahasiswa," katanya.

Mengenai Ma'had, mahasiswi tersebut dan Shulhan mengeluhkan semakin mahalnya biaya Ma'had yang dikenakan pertahunnya. "Dari Rp 5 juta pertahun pada 2015, menjadi Rp 7,5 juta pada 2016.

Menurut kami ya wajar jika peminat UIN tak lagi banyak karena mereka memikirkan biaya mahal yang harus dikeluarkan. Belum lagi biaya UKT yang juga makin tinggi," tuturnya.

Mereka berdua berharap dengan rektor yang baru, siapapun itu, UIN Maliki akan bertambah maju. "Semoga pemimpin yang baru tidak hanya kebanyakan janji," tutup sang mahasiswi.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved