Kamis, 4 Juni 2026

Malang Raya

Kota Malang Gudangnya Desainer, Karyanya Bahkan Tembus Pasar Internasional

Saat ini harus mengubah image. Tidak hanya mendesain, menjahit baju dan melabelinya, desainer juga berpikir cara memasarkan.

Tayang:
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM/Hayu Yudha Prabowo
Sejumlah model memamerkan busana rancangan desainer Kota Malang 

SURYAMALANG.COM - Jes, jangan ngaku suka fesyen kalau belum punya koleksi brand lokal Malang. Di tengah kerumunan orang-orang kreatif di Kota Malang, ternyata menyimpan banyak desainer dengan karya keren yang cocok buat dikoleksi.

Ketua Indonesia Fashion Chamber (IFC) Kota Malang Agus Sunandar menyebut, setidaknya ada 100 desainer di Kota Malang. Desainer itu sebagian besar memiliki label sendiri untuk produk yang mereka buat. 

Dari sekitar 100 orang desainer itu, yang tergabung di IFC masih 14 orang. Belasan orang ini memiliki produk dan label sendiri.

"Kota Malang ini kotanya orang kreatif dan berbicara tentang desainer banyak jumlahnya. Bibit-bibit bagus desainer dimiliki Kota Malang juga," ujar Agus. 

Karena itu, meski hanya sebagai kota tingkat II, Kota Malang bisa terpilih untuk mendirikan IFC. Di Indonesia, IFC hanya berdiri di ibukota provinsi.

"Hanya Kota Malang saja yang tingkat II. Bisa berdiri karena banyaknya desainer di sini," tutur Agus. 

Kehadiran IFC, kata Agus, diharapkan membantu desainer dalam bisnis fesyen. 

"Saat ini harus mengubah image. Tidak hanya mendesain, menjahit baju dan melabelinya, desainer juga berpikir cara memasarkan. Pelaku usaha di bidang fesyen harus berpikir bisnis, meski sejauh ini rata-rata masih industri skala kecil," imbuhnya. 

Usut punya usut, produk arek-arek Malang ini sejatinya sudah melanglang ke sejumlah kota di Indonesia, bahkan mancanegara. Hal ini karena penjualan produk desainer Kota Malang ini ditopang melalui penjualan secara online. 

Belinda R Ameliya, misalnya. Perempuan ini memiliki label Belinda Ameliyah. Ia memproduksi modest wear.

"Saya mendesain pakaian di lini modest wear, tetapi tidak hanya dipakai untuk orang berhijab, namun orang yang tidak memakai hijab juga bisa memakainya," ujar Belinda. 

Sebagai cirinya, Belinda menggabungkan bahan etnik atau tradisi dengan bahan modern. Karenanya dia menyebut juga rancangannya bergaya urban ethnic. Rancangan Belinda dijual mulai dari harga Rp 200.000 hingga Rp 500.000.

Desainer lain, Urulia Yashinta yang memiliki label sesuai namanya 'uruliayashinta' memilih fokus kepada kebaya dan dress. Tetapi ketika Lebaran tiba, perempuan yang memiliki tempat workshop di Kelurahan Tanjungsekar Kecamatan Lowokwaru itu memproduksi baju muslim.

"Seperti saat ini, saya sedang produksi," ujar Shinta. Ia hanya membuat baju muslim dalam edisi terbatas. Tahun lalu, ada enam rancangan dibuat. Setiap rancangan dibuat 12 unit. 

Tahun ini, Shinta merancang empat desain, dan masing-masing desain diproduksi 10 pakaian.

"Saya memang membuatnya edisi terbatas, dan dijual secara online. Pasar saya banyak di Surabaya dan Jakarta, meskipun pengerjaan di Malang," ujarnya.

Ia mengaku Kota Malang memiliki banyak desainer. Sayangnya, pasar pakaian untuk desainer Malang lebih terbuka dari kota luar Malang. Kota besar seperti Surabaya dan Jakarta masih menjadi pasar untuk rancangan-rancangan kreatif arek-arek Malang ini.

"Bahkan luar negeri," imbuh Belinda.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved