Malang Raya
Inilah Peta Perburuan Benih Lobster, Ternyata Bukan Hanya di Kabupaten Malang
Jika ditelusuri lebih jauh, katanya, perburuan benih lobster itu terjadi merata di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa, mulai Jatim, sampai Jateng.
Penulis: Samsul Hadi | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM, SUMBERMANJING WETAN - Akibat banyaknya nelayan berburu benur lobster, pemilik kapal besar di Sendangbiru justru merugi. Anak Buah Kapal (ABK) yang seharusnya mengoperasikan kapal, mengundurkan diri demi mencari benur. Alhasil, kapal itu pun mangkrak tak terpakai sekitar enam bulan.
Seorang juragan kapal di Sendangbiru, Joko Prasetyo (52) harus rela melihat empat kapalnya ukuran 19 meter x 4 meter tak melaut. Para ABK, masing-masing enam untuk tiap kapal, memilih pergi mencari benur lobster. Akibatnya, Joko mengaku rugi ratusan juta rupiah.
“Ngelu tenan saya. Bukan saya cemburu sosial kepada pencari benur. Tapi, saya juga kena dampaknya. Tidak bisa kerja kapal saya,” imbuh Joko.
Kasubag Program Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) jatim Nur Andriono menjelaskan, titik-titik perburuan benur lobster hampir merata di sepanjang pantai selatan Jatim.
“Kalau di Banyuwangi di daerah Pancer, Jember ada di Puger dan Watu Ulo, Malang mulai dari Tirtoyudo sampai Sumbermanjing, Blitar sepanjang garis pantai, Tulungagung juga sama, di Trenggalek mulai Munjungan sampai Prigi,” kata Nur Andriono kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (7/4).
Jika ditelusuri lebih jauh, katanya, perburuan benih lobster itu terjadi merata di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa, mulai Jatim, Jateng, hingga Jabar.
Menurutnya, DKP selama ini aktif menelusuri beberapa pola pengiriman benur lobster dari nelayan hingga ke bos besar sebelum di kirim ke luar negeri. Benur dari nelayan diambil oleh pengepul lokal, yang merupakan jaringan bentukan pengepul besar.
Biasanya, pengepul memodali biaya nelayan melaut untuk mendapat benur lobster. “Sebelum menyetor benur, mereka (nelayan) punya utang,” ungkapnya.
Bos-bos besar juga berperan sebagai eksportir. Mereka mengirim benih benur ke beberapa negara seperti, Vietnam, Thailand, dan Singapura.
Sedangkan media penyimpanan benih benur adalah botol air mineral atau kantong plastik transparan yang kemudian diganti media lain selama proses pengiriman. Untuk pengiriman via bandara, misalnya, benur lobster ditaruh dalam bahan sejenis spons yang bisa menyimpan air lalu digulung.
DKP Jatim sebenarnya sudah beberapa kali menguntit jaringan bisnis ilegal ini. Namun, petugas selalu gagal menangkap pengepul yang mengirim benur dengan cara berganti-ganti mobil.
“Kami pernah mengikuti. Itu tiga sampai lima kali ganti mobil, sebelum akhirnya ke bandara,” kata dia.
Meski selalu gagal mengikuti pergerakan pengepul, namun Nur Andriono memprakirakan bos atau pengepul besar bisnis ilegal benur lobster berada di Banyuwangi, Surabaya, dan Jakarta.
Terkait keberadaan pengepul lokal, juga diakui sejumlah nelayan di pantai selatan Malang. Bahkan, di Pantai Sendangbiru informasinya ada lima pengepul lokal.
Sayangnya sejumlah nelayan yang ditemui SURYAMALANG.COM tidak mau menunjukkan identitas pengepul lokal itu. Apalagi, dalam beberapa hari terakhir gencar diberitakan di media massa mengenai penangkapan jaringan illegal fishing itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/suasana-pantai-kondang-merak-di-kabupaten-malang_20170411_094200.jpg)