Selasa, 5 Mei 2026

Malang Raya

Pernikahan Unik Ini Digelar di Kampung Warna-Warni, Kota Malang, Riasan Pengantinnya Mengerikan

Wewe dalam Bahasa Jawa berarti hantu. Opera arak-arakan pernikahan wewe ini untuk memperingati Hari Tari Dunia yang diperingati setiap 29 April.

Tayang:
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/Hayu Yudha Prabowo
Adegan dalam Opera Arak-arakan Pernikahan Wewe (Hantu Jawa) untuk memperingati Hari Tari Dunia dan Hari Musik Indonesia di Kampung Warna-warni Jodipan Malang, Sabtu (29/4/2017). 

SURYAMALANG.COM, BLIMBING - Arak-arakan orang berpakaian ala pengantin melintas di Jembatan Brantas di atas Kampung Warna-Warni (KWW), Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Sabtu (29/4/2017). Arak-arakan pengantin itu menarik perhatian pengguna jalan di jalur nasional itu.

Apalagi pengantin pria berdandan tidak biasa. Meski memakai jas warna hitam, riasan wajahnya menyeramkan. Bola mata kanannya terlihat seperti keluar. Pengiring pengantin juga menggunakan riasan seperti hantu.

Sepasang pengiring yang membawa ‘kembar mayang’ juga memakai riasan seperti hantu. Pengiring ini tetap memakai kebaya dan kain jarit.

Arak-arakan ini masuk ke perkampungan KWW. Pengantin perempuan dan pengiringnya telah menunggu di lapangan di tepi Sungai Brantas. Pengantin perempuan juga memakai riasan ala hantu dengan rangkaian bunga melati di rambutnya.

Ini bukan gambaran pernikahan nyata. Gambaran ini ada di operas arak-arakan pernikahan wewe.

Wewe dalam Bahasa Jawa berarti hantu. Opera arak-arakan pernikahan wewe ini untuk memperingati Hari Tari Dunia yang diperingati setiap 29 April.

Opera digelar oleh mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Seni Tari dan Musik, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM). Opera arak-arakan pernikahan wewe adalah upaya responsif kreatif terhadap dunia seni pertunjukan, terutama tari dan musik.

200 orang terlibat dalam opera tari di kampung yang menjadi destinasi wisata di Kota Malang ini. Tema ‘Pernikahan Wewe’ diangkat dari legenda dan mitos kampung.

“Tujuannya untuk memikirkan kembali mitos Jawa ini sebagai potensi kreatif dan introspeksi prediktif,” ujar Suryo Wido Minarto, dosen Pendidikan Seni Tari dan Musik UM kepada SURYAMALANG.COM.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved