Malang Raya

Poskamling Cerdas, Budaya Literasi dari Pojokan Gang

Idenya adalah menjadikan poskamling itu sebagai tempat membaca alias perpustakaan mini.

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM/Sri Wahyunik
Sutikno, salah satu warga pencetus ide Poskamling Cerdas bersama anak- anak pengunjung perpustakaan di pos kamling itu. 

SURYAMALANG.COM, BLIMBING - Memasuki gang RT 02 RW 01 Jl LA Sucipto Kelurahan Pandanwangi Kecamatan Blimbing, anda akan disambut tulisan 'Kampung Literasi'. Dan memasuki gang sempit itu, anda akan menemukan Poskamling Cerdas.

Poskamling Cerdas itulah yang menjadi ruh Kampung Literasi Pandanwangi. Berada di pojokan gang, poskampling itu hanya berukuran 3,5 meter x 3 meter.

Lima anak terlihat asyik membaca buku ketika Surya mendatangi Poskamling Cerdas, Selasa (9/5/2017). Mereka membaca buku cerita anak.

Poskamling kecil itu dicat meriah berwarna hijau dan kuning. Rak-rak buku menempel di salah satu dinding. Lantai poskamling dilapisi kayu dan karpet sehingga mereka yang duduk di lantai bisa lebih nyaman. Di atas genteng poskamling itu bertengger tulisan 'Poskamling Cerdas Literasi'.

Menuju poskamling itu, di sepanjang gang ada beragam gambar area bermain anak jaman dulu, seperti gebokan, congklak, betengan, juga lompat tali, dan area bermain kelereng.

Poskamling itu berubah tiga bulan terakhir. Jangan bayangkan sebelum itu. 'Poskamlingnya tidak terawat, tidak maksimal dipakai," ujar Sutikno, warga setempat sekaligus pencetus ide Poskamling Cerdas.

Akhirnya ia mencoba berbicara dengan warga setempat untuk menghidupkan poskamling itu. Idenya adalah menjadikan poskamling itu sebagai tempat membaca alias perpustakaan mini.

Ide Sutikno tidak sekadar ide. Ia pun membuktikannya dengan membeli 10 buku cerita anak. Anak-anak diminta datang dan membaca. Sutikno juga mengajak mereka berbagi cerita melalui buku-buku tersebut.

"Lalu saya minta anak-anak sini yang mau terlibat di Poskamling Cerdas, ikut menjaga tempat ini. Saling menjaga dan saling mengingatkan," ujarnya.

Tiga bulan berlalu, kini buku di tempat itu mencapai 150 buku. Tidak hanya menjadi tempat membaca dan saling bercerita, namun juga diiringi kebangkitan dolanan tradisional anak-anak.

Sutikno menuturkan, motivasi yang membuatnya ingin mengubah Poskamling itu juga keinginan anak-anak tidak bermain di pinggir jalan usai jam sekolah mereka. Karenanya, ketika hari sekolah, Poskamling Cerdas dibuka selepas adzan ashar sampai malam hari. Anak-anak bisa secara bebas membaca di situ.

"Selain itu, saya ini kan lulusan SD, baca tulis tidak lancar. Harapan saya anak-anak bisa mendapatkan lebih, tidak hanya melalui sekolah tetapi juga perpustakaan di sekitar rumahnya," imbuh lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai tukang antar galon air isi ulang ini.

Kini setiap hari, jumlah kunjungan di Poskamling Cerdas itu berkisar antara 15 - 20 orang. Mereka tidak hanya anak-anak tetapi juga ibu-ibu lingkungan setempat.

Apakah selama ini sudah kehilangan buku akibat dipinjam tidak kembali?. 'Belum, karena kan yang bertanggungjawab juga ana-anak, ikut saling menjaga," jawa Sutikno sambil tersenyum.

Nabila Maharani, pelajar kelas 4 di lingkungan itu, mengaku senang dengan keberadaan Poskamling Cerdas itu. "Senang, biasanya tiap sore main di pinggir jalan. Sekarang baca di sini saja. Sekarang lagi baca buku tentang persahabatan," ujar Nabila.

Halaman
12
Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved