Malang Raya
Terkena Pantulan Peluru Tentara, Petani di Malang Masih Bisa Berjalan, Tapi Akhirnya Tewas
Kurang dari pukul 07.00 WIB, seperti hari biasanya, Buawi ke ladang itu. Ia telah memanen singkongnya, dan hendak menanaminya kembali.
Penulis: Sri Wahyunik | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Petani singkong asal Dusun Pakel, Desa Baturetno, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Buawi (50), mengembuskan nafas terakhirnya di hadapan saudara dan tetangganya, Selasa (8/8/2017). Nyawanya tidak tertolong saat hendak diangkut ke mobil Kepala Desa Baturetno Mufid, sekitar pukul 08.30 WIB.
Nyawanya tak tertolong setelah pipi kanannya terkena pantulan peluru saat mencangkul di ladang singkong di kawasan Bukit Gondomayit Kecamatan Singosari. Ketika ditolong warga, terlihat luka di pipi kanannya, dan mengeluarkan darah.
Buawi masih sempat berujar 'pelor-e nang njero' saat bertemu orang di jalan dalam rangka mencari pertolongan.
Peristiwa itu bermula ketika Buawi berladang di ladang singkong yang ia kerjakan. Ladang singkong itu berada di bukit Gondomayit. Kawasan itu dikenal sebagai area latihan tembak TNI Angkatan Udara (AU).
Ladang yang digarap Buawi juga milik TNI AU. Ladang itu hanya berjarak sekitar 500 meter dari batas lapangan tembak. Dari informasi yang dihimpun SURYAMALANG.COM, kedua area itu berbatasan dengan tanggul atau punggung bukit.
Kurang dari pukul 07.00 WIB, seperti hari biasanya, Buawi ke ladang itu. Ia telah memanen singkongnya, dan hendak menanaminya kembali.
"Dia nyangkul di ladang itu," ujar Ngatijo, adik ipar Buawi.
Tidak ada yang membantu Buawi menggarap setengah hektare lahan itu. Buawi bekerja seorang diri. Masih menurut Ngatijo, ketika kakak iparnya terkena peluru itu, tidak ada satu orang pun di sekitar lahan itu.
Sekitar pukul 08.10 WIB, Kasiyati atau yang biasa dipanggil Mak Ya kaget mendapati Buawi berjalan sempoyongan. Buawi dan Kasiyati bertemu di sekitar proyek jalan tol di Baturetno. Jarak antara proyek jalan tol dengan ladang yang digarap Buawi sekitar 1 Kilometer.
"Ladang dia sampai bertemu orang pertama kali, Mak Ya itu sekitar 1 Kilometer. Bertemu di sekitar proyek jalan tol," ujar Kades Baturetno Mufid saat ditemui Surya di Kamar Mayat RS Saiful Anwar.
Kasiyati kaget melihat Buawi berdarah di bagian kepala. Ia pun sempat menawari Buawi minum air putih. Tetapi Buawi menolaknya sambil berujar 'pelor-e nang njero'. Setelah berucap itu, Buawi roboh.
Kasiyati langsung memanggil warga yang ada di sekitar tempat itu. Mereka membopong tubuh Buawi ke rumah Mufid yang berjarak sekitar 250 meter dari lokasi robohnya Buawi.
"Sampai depan rumah saya, dia masih bernafas," ujar Mufid.
Mufid bergegas mengeluarkan mobil. Buawi akan dibawa ke rumah sakit terdekat. Namun saat berada di depan pintu mobil, Buawi mengembuskan nafas terakhirnya. Buawi diduga kehabisan darah akibat luka di pipinya tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/korban-peluru-nyasar-di-singosari-kabupaten-malang_20170808_132855.jpg)