Malang Raya
Dokter Universitas Negeri Malang Lulusan Australia Paparkan Fakta dan Risiko Makanan Asia
Untung saja di Asia memiliki banyak makanan yang bisa mengatasi risiko penyakit degeneratif, contohnya penyakit jantung dan kanker
Penulis: Neneng Uswatun Hasanah | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - One Asia Lecture Series (OALS) yang diadakan oleh Kantor Hubungan Internasional Universitas Negeri Malang (UM) bekerja sama dengan One Asia Foundation dimulai dengan kuliah berjudul Asian Diets, Senin (7/11/2017).
Kuliah tersebut disampaikan oleh dr Desy Ariwinanti, dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan UM. Lulusan University of Melbourne, Australia itu mengatakan Asia saat ini dilanda ketakutan atas penyakit degeneratif.
"Untung saja di Asia memiliki banyak makanan yang bisa mengatasi risiko penyakit degeneratif, contohnya penyakit jantung dan kanker," jelasnya.
Makanan-makanan tersebut adalah olahan kedelai, yaitu tahun dan tempe, serta produk ikan segar, dan sayuran hijau, serta teh hijau.
"Konsumsi daging orang Asia juga sudah semakin berkurang karena menyadari bahwa protein nabati jauh lebih sehat," lanjut Desy.
Produk ikan di Asia juga kebanyakan adalah ikan segar, bukan ikan kalengan.
"Tapi sayangnya masih banyak orang Asia yang mengolah ikan segar itu dengan digoreng dan dilakukan berulang-ulang. Sehingga lemak jenuhnya semakin menurun dan membahayakan tubuh," terangnya.
Selain itu, masyarakat Asia masih banyak mengonsumsi nasi putih yang berisiko besar karena memiliki kandungan gula yang tinggi.
"Kadangkala orang Asia juga kurang memperhatikan label kandungan gizi pada kemasan makanan, mereka juga terlalu banyak mengonsumsi bahan pengawet, dan banyak mengonsumsi gula," papar dia.
Ia juga memaparkan fakta menarik tentang makanan Asia. Antara lain warga negara Tiongkok-Jepang-Korea yang menggunakan piring kecil dan sumpit untuk makan.
"Cara itu akan membuat makan kita jadi sedikit dan lama. Serta perut akan terasa mudah kenyang. Sinyal kenyang membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai ke otak.
"Sehingga makan atau mengunyah dengan lama akan memberi waktu sinyal kenyang sampai ke otak. Jika makan terburu-buru, maka sinyal kenyang baru sampai ketika perut sudah terlalu penuh," jelasnya.
Kemudian masyarakat Asia juga sering meminum teh hangat sebelum makan. Kebiasaan itu baik karena membantu mengaktifkan enzim pencernaan sehingga lebih lancar.
"Orang Asia juga memiliki bnayak jenis sup. Sup sangat bagus karena mudah dicerna dan lebih sehat. Orang Asia juga tidak banyak makan makanan penutup, dan banyak makan produk ikan," tutupnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/desy-ariwinanti-dosen-fakultas-ilmu-keolahragaan-um-memberi-kuliah-pada-one-asia-lecture-series_20171107_165500.jpg)