Selasa, 14 April 2026

Malang Raya

Menteri Perdagangan Kendalikan Impor Komoditas yang Bisa Diproduksi Dalam Negeri

Terutama menjaga stabilitas harga bahan pokok itu tidak mudah, apalagi saat Bulan Ramadhan. Harus melalui proses pembahasan yang matang

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM/Neneng Uswatun Hasanah
Menteri Perdagangan RI, Drs Enggartiasto Lukita berkunjung ke Universitas Muhammadiyah Malang, Jumat (24/11/2017). 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Menteri Perdagangan RI, Drs Enggartiasto Lukita berkunjung ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (24/11/2017). Ia memberikan kuliah tamu bertema Peluang Berusaha Bagi Mahasiswa dalam Era Perdagangan Bebas.

Pada kesempatan itu, ia menjelaskan tugas yang dimandatkan Presiden Joko Widodo padanya. Antara lain menyerap seluruh produksi dalam negeri, menjaga dan menurunkan harga bahan pokok, mengendalikan inflasi, menjaga perdagangan negara, dan membuka pasar baru untuk ekspor.

"Terutama menjaga stabilitas harga bahan pokok itu tidak mudah, apalagi saat Bulan Ramadhan. Harus melalui proses pembahasan yang matang," tuturnya.

Ia mencontohkan produk hortikultura dari Batu atau Malang, misalnya wortel yang dipanen sekian banyak belum tentu laku karena dihadapkan dengan persaingan wortel impor.

"Wortel impor itu lebih murah, warna dan bentuknya juga lebih bagus. Tapi kan Indonesia masih bisa memproduksi sendiri dengan jumlah yang banyak. Maka dari itu saya minta wortel dicoret dari daftar impor. Bukan dilarang, tapi saya minta mereka mencoret sendiri. Kalau tidak, saya tidak akan memproses ijin impor mereka secara keseluruhan," bebernya.

Meski tanpa peraturan, namun ia meyakini omongan Menteri bisa juga menjadi peraturan.

"Selama untuk kepentingan petani dan rakyat, semua akan saya lawan untuk mengendalikan impor komoditas yang bisa diproduksi sendiri di dalam negeri," tutur Enggar.

Begitu pula dengan jeruk yang sudah diputus impor yang masuk sejak tahun ini.

"Bawang putih juga 95 persen impor dan dikendalikan oleh satu perusahaan. Secara bertahap petani didoronh untuk menanam bawang putih dan tersebar di beberapa wilayah di Indonesia sehingga nantinya kita tidak perlu impor," jelasnya.

Peluang usaha besar ada pada bidang bahan pokok makanan. Ia pun mendorong mahasiswa dan alumni untuk mengembangkan produk makanan. Jika kebingungan untuk memasarkan, Enggar mempersilakan mereka memberikan produk itu pada Kemendag dan Kemendag akan membantu mendorong menjadi produk ekspor atau dimasukkan pada pasar ritel modern.

"Terutama saat ini tren makanan halal tidak hanya diterima di domestik tapi juga di luar negeri. Karena menurut mereka yang sudah mencoba, makanan halal itu juga sehat. Sehingga ini menjadi potensi besar untuk usaha. Apalagi sertifikasi halala dari Indonesia lebih dipercaya di seluruh negara," kata dia.

Wirausaha juga sangat dibutuhkan karena rasio yang masih terlalu rendah atas masyarakat yang mau menjadi pengusaha di Indonesia.

"Yang penting melakukan apapun harus fokus, konsentrasi, dan jangan mengeyampingkan hal detil," pesannya.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved