Minggu, 19 April 2026

Pilkada Kota Malang

Saran Pia Wulandari PhD soal Nomor Urut dan Komunikasi Politik di Malang

#MALANG - Secara psikis, orang akan melihat ke kiri ketika membuka surat suara. Pasti orang akan melibat siapa yang berada di angka 1.

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: yuli
istimewa
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya, Maulina Pia Wulandari, Phd 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Nomor urut atau angka bukan menjadi penentu menang dan tidaknya pasangan calon (Paslon) kepala daerah. Meskipun nomor urut tetap menjadi simbol bagi Paslon, bukan sekadar angka.

Demikian dikatakan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya, Maulina Pia Wulandari, PhD kepada SURYAMALANG.COM, Rabu (14/2/2018).

Berbicara tentang angka, Pia menyebut, angka 1 selalu menjadi angka unggulan. Bagi karakter orang Asia, katanya, angka 1 melambangkan peringkat pertama dan angka terbaik.

Ia juga mengutip penelitian di Belanda tentang legislator yang berada di nomor urut 1 lebih banyak terpilih dibandingkan nomor 2, 3 dan seterusnya. Apalagi jika nomor urut itu di atas angka 4, biasanya orang tidak melihat angka urut itu.

"Dan secara psikis, orang akan melihat ke kiri ketika membuka surat suara. Pasti orang akan melibat siapa yang berada di angka 1," ujar Pia. Angka dan penempatan urutan angka ini, lanjutnya, memudahkan seseorang mengingat.

Pendapat ini diungkapkan Pia ketika ditanya tentang angka yang menjadi nomor urut dalam kacamata komunikasi politik, paska pengundian nomor urut pasangan calon (Paslon) kepala daerah Kota Malang.

Meski begitu, Pia mengingatkan secara tegas, bahwa ada faktor penting yang mempengaruhi menang dan tidaknya calon kepala daerah. "Angka bukan penentu menang dan tidaknya Paslon. Ada dua faktor yang mempengaruhi menang dan tidaknya calon," ujar Pia.

Faktor itu, pertama, profil atau sosok calon. Menurutnya, sering kali pemilih melihat Paslon itu dari profil atau sosoknya. Ini biasa disebut dengan personifikasi. Profil yang populer lebih banyak peluangnya terpilih dibandingkan yang tdk populer

Kedua, peran serta Partai Politik (Parpol) pendukung Paslon dalam menggerakkan konstituennya. Paslon yang didukung oleh partai yang memiliki jumlah konstituen besar memilki peluang yang lebih dibandingkan Paslon yang didukung oleh partai yg kontituennya lebih sedikit

"Ingat ketika Jokowi-Kalla menang dengan nomor urut 2. Ini lebih pada sosok Jokowi yang benar-benar merebut hati rakyat," imbuhnya.

Pia juga menambahkan tentang hasil berbagai penelitian tentang faktor penentu kemenangan kepala daerah di berbagai daerah di Indonesia secara garis besar, yakni faktor kepopuleran Paslon, sikap dan perilaku kepemimpinan Paslon, dukungan masyarakat baik dari konstituen Parpol pengusung maupun masyarakat, pandangan masyarakat terhadap program yang ditawarkan, dan kelima faktor strategi komunikasi yang tepat saat masa kampanye.

Pia juga mengutip tentang trend Paslon yang dipilih oleh rakyat yang meliputi unsur peduli kepada rakyat, bersih dari korupsi, memiliki kecerdasa, kharismatik, dan dermawan.

Sedangkan khusus untuk Paslon Pilwali Kota Malang, Pia menyarankan kepada tiga Paslon untuk melakukan tiga hal saat berkampanye. Ketiga hal ini terkait gaya komunikasi politik mereka.

"Blak-blakan, simpel, dan lugas. Inilah gaya berkomunikasi di Kota Malang. Paslon sebaiknya memakai ini. Orang Malang itu tidak mbulet, suka blak-blakan, lugas dan simpel. Jadi ketika berkampanye tidak usah memakai jargon politik yang tidak jelas," tegasnya.

Pilkada Kota Malang akan diikuti oleh tiga calon yakni Yaqud Ananda Gudban - Ahmad Wanedi, Anton - Syamsul Mahmud, dan Sutiaji - Sofyan Edi Jarwoko. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved