‘Dewi Drupadi’ Melenggang di East Java Fashion Tendance 2018

Dewi Drupadi juga dipilih karena sosoknya turut menghiasi relief di Candi Borobudur yang tersohor hingga ke mancanegara.

Penulis: Achmad Pramudito | Editor: yuli
achmad pramudito
Busana tema ‘Dewi Drupadi’ (kanan) yang tampil dalam warna merah maroon ini menjadi andalan desainer Yenny Ries yang diperagakan di pentas East Java Fashion Tendance 2018. Agenda tahunan ini berlangsung di Atrium Ciputra World Surabaya selama empat hari mulai Kamis (1/3/2017). 

SURYAMALANG.COM - Keanggunan Dewi Drupadi, salah satu istri Pandawa, menjadi inspirasi Yenny Ries untuk dituangkan pada karyanya yang dipamerkan di panggung East Java Tendance 2018 di Atrium Ciputra World Surabaya.

Dewi Drupadi juga dipilih karena sosoknya turut menghiasi relief di Candi Borobudur yang tersohor hingga ke mancanegara.

Untuk kreasinya kali ini, Yenny menggunakan bahan batik tulis Yogyakarta. “Saya ambil dari Batik Keraton Yogyakarta agar nafasnya sama dengan sosok Dewi Drupadi yang menghiasi relief Borobudur,” ucap Yenny.

Selain itu, Yenny juga menggabungkan dengan bahan lace, sutra, brokat, dan tile. Sedang warna yang dipilih adalah sogan untuk batik tulisnya, dan merah maroon buat brokat. 

Karena dirancang untuk acara-acara pesta glamor, maka busana Yenny Ries ini pun modelnya evening gown dengan tambahan ‘ekor’ sekitar 1,5 meter. Agar makin elegan dan mewah, Yenny menambahkan butiran Kristal Swarovski gold dalam bentuk semburan di beberapa bagian.  

Selain Yenny Ries, agenda tahunan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jawa Timur yang tampil pada hari pertama, Kamis (1/3) adalah Gie Batik, Stefani Zhang, Melia Wijaya, Hanaika, dan Djoko Sasongko. Pentas fashion yang sudah diadakan untuk kedua kalinya ini juga dimeriahkan oleh karya-karya desainer dari Jakarta dan Yogyakarta.

Warisan budaya Nusantara menjadi fokus utama para desainer yang kemudian diaplikasikan pada busana rancangan mereka. Seperti Yenny Ries, Hanaika Heydi pun terinspirasi oleh kemegahan Candi Borobudur.

Pada rancangan yang diberi title Epitome ini, Hanaika mengaku mengambil ‘semangat’ Borobudur. “Jadi saya ambil filosofi kosmologi rohnya yang ada tiga tingkatan, yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu,” bebernya.  

Untuk tingkatan Kamadhatu, diaplikasikan pada gaun dengan warna merah, sebagai symbol hawa nafsu manusia. Untuk Rupadhatu, diwujudkan dalam bentuk busana berwarna biru yang identik dengan air.

Sedang pada tingkatan Arupadhatu, Hanaika mewujudkannya menjadi busana berwarna putih. “Busana ini representasi kehidupan manusia yang setelah melalui perjalanannya nanti dia akan kembali suci,” katanya. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved