SBMPTN

Penilaian Ujian SBMPTN Terbaru Tahun 2018, Bobot Penilaian Skor Berubah kalau Salah Dapat 0

Pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) sudah digelar 5 April hingga 27 April 2018 untuk Ujian Tulis Berbasis Cetak

Penilaian Ujian SBMPTN Terbaru Tahun 2018, Bobot Penilaian Skor Berubah kalau Salah Dapat 0
SURYAMALANG.COM/Hayu Yudha Prabowo
Peserta mengerjakan soal-soal Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2016 di Universitas Merdeka Malang, Selasa (31/5/2016). Sebanyak 34.422 peserta SBMPTN Panlok 55 Malang mengikuti ujian dan bersaing memperebutkan tiket masuk perguruan tinggi negeri. 

SURYAMALANG.com - Pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) sudah digelar 5 April hingga 27 April 2018 untuk Ujian Tulis Berbasis Cetak (UTBC).

Sedangkan untuk Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) akan dibuka 18 April hingga 27 April 2018. Kemudian kedua tes tersebut akan dilaksanakan serentak pada 8 Mei 2018.

Dalam pelaksanaan SBMPTN tahun ini akan ada perubahan dari sistem penilaian dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Pada tahun-tahun sebelumnya, penilaian skor SBMPTN dihitung dengan skor (+4) untuk jawaban benar, (-1) untuk jawaban salah dan (0) untuk tidak dijawab.

Hal ini dibenarkan oleh Joni Hermana selaku Sekertaris Panitia Pusat Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Negeri (SN-PMB PTN) 2018.

Ia membenarkan bahwa tidak ada sistem penilaian skor (+4) untuk jawaban benar, (0) untuk yang tidak menjawab, dan (-1) untuk jawaban salah di tahun ini.

Dalam SPMBTN 2018 ini, ungkap Joni Hermana akan diproses dengan pemberian skor (+1) untuk jawaban yang benar, dan (0) untuk jawaban yang salah dan tidak dijawab.

Joni menjelaskan dengan menggunakan pendekatan Teori Response Butir (Item Response Theory), maka setiap soal akan dianalisis karakteristiknya.

Diantaranya tingkat kesulitan relatifnya terhadap soal yang lain, dengan mendasarkan pola response jawaban seluruh peserta tes tahun 2018.

Dengan menggunakan model matematika, maka akan mudah menentukan soal dengan kategori mudah, sedang dan sulit.

Dengan demikian ia juga menuturkan, apabila ada peserta yang menjawab soal benar dan jumlah jawaban yang sama, belum tentu mendapatkan skor yang sama. Karena akan dianalisis berdasarkan kategori soalnya tadi.

"Metode skor seperti ini sudah lama digunakan di beberapa Negara maju di Amerika dan Eropa. Karena dengan menyertakan karakteristik soal, maka skor yang diperoleh akan lebih fair dan dapat membedakan kemampuan peserta dengan lebih baik," tutup Joni dalam siaran Persnya, Senin (9/4/2018) seperti yang dicuplik dari twitter Mendikbud Muhadjir Effendy.

Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved