Selasa, 7 April 2026

Malang Raya

Dugaan Penelantaran Anak di Kota Batu, Putri dan Pengadopsi Akan Bertemu Senin 25 Juni

Kesepakatan itu terjadi ketika M Budiono, suami Putri berada di lokasi. Sedangkan Putri tidak berada di lokasi.

Penulis: Benni Indo | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM/Benni Indo
Atha menggendong anak keenam Putri dan Budiono, pasutri asal Kota Batu. 

SURYAMALANG.COM, BATU – Pihak keluarga Kurnia Putri Wardani (30) dan pengadopsi, beserta perangkat Desa Pendem akan bermediasi di Balai Kota Among Tani. Mediasi yang difasilitasi Dinas Sosial Kota Batu itu rencananya akan berlangsung pada Senin (25/6/2018).

Mediasi akan membahas persoalan anak-anak putri yang diadopsi sejumlah pihak. Sedangkan Putri sendiri bermaksud meminta kembali anak-anaknya.

Teguh Frananda, Ketua RT 29/RW 7, adalah salah seorang yang mengadopsi anak Putri, Zahfa. Bahkan Teguh memberi nama Zahfa Frananda untuk anak yang ia adopsi itu.

Baca: Dugaan Penelantaran Anak di Kota Batu, Pihak Tertuduh Layangkan Bantahan

Baca: Istri Sedang Sakit, Suami Terpaksa Telantarkan Lima Anaknya di Kota Batu

Baca: Rencana Dokter Tim Arema FC saat Pemusatan Latihan di Kota Batu

Teguh pun menolak jika harus menyerahkan anak yang ia adopsi itu ke Putri. Ia khawatir kalau anak yang ia adopsi itu tidak mendapat perawatan yang baik.

“Ya saya tidak setuju. Khawatirnya nanti terulang kembali kejadian seperti kemarin,” papar Teguh saat dijumpai di rumahnya, Sabtu (23/6/2018).

Teguh mengadopsi anak Putri setelah anak-anaknya dievakuasi dari rumah. Awalnya warga mendengar tangisan suara anak kecil dari dalam rumah Putri. Saat dibuka, ada lima anak yang berada di dalam.

Warga mengira anak-anak itu terlantar sehingga dievakuasi. Kemudian M Budiono, ayah anak-anak itu datang. Tak lama kemudian, ditandatangani surat pernyataan sehingga Teguh bisa mengadopsi satu orang anak.

Diterangkan Teguh, sebagai ketua RT ia sudah berulang kali meminta surat-surat identitas keluarga Putri. Namun hingga detik ini, tidak ada surat atau dokumen-dokumen yang jelas dari keluarga Putri.

“Mengelak terus. Sudah lima tahun tinggal. Jadi selama ini identitas tidak ada seperti KTP atau KK,” ujar Teguh.

Teguh mengatakan, anak-anak Budi seperti terlantar sejak dulu. Anak-anaknya itu juga sering minta makan ke tetangganya.

“Sering kayak gitu,” imbuhnya.

Melihat kondisi itu, Teguh puh terenyuh. Tidak hanya Teguh, sejumlah warga lainnya juga ikut terenyuh melihat kondisi itu.

Teguh juga mengatakan kalau kelima anaknya itu sering menangis setiap malam. Tangisan itu sering didengar para tetangga. Bahkan dikatakan Teguh tangisan itu berlangsung sejak malam hingga pagi hari.

“Akhirnya warga saat itu mendatangi rumah,” katanya.

Dikatakan Teguh, kondisi Zahfa yang ia adopsi selama seminggu semakin cerita. Awalnya, kata Teguh, Zahfa pendiam dan suka menangis.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved