Breaking News:

Malang Raya

Tim BKSDA dan ProFauna Temukan Karapas Penyu di Cagar Alam Pulau Sempu

Tim patroli gabungan BKSDA Jawa Timur dan PROFAUNA Indonesia menemukan sebuah karapas penyu di Cagar Alam Pulau Sempu, Kabupaten Malang,

Penulis: Benni Indo | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM/Benni Indo
Karapas Penyu yang ditemukan di kawasan Cagar Alam Pulau Sempu 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Tim patroli gabungan BKSDA Jawa Timur dan PROFAUNA Indonesia menemukan sebuah karapas penyu di Cagar Alam Pulau Sempu, Kabupaten Malang, Rabu (15/8/2018).

Penemuan karapas penyu lekang (Lepidochelys olivacea) itu berawal dari laporan mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman yang sedang melakukan penelitian terumbu karang di Pantai Teluk Air Tawar, Pulau Sempu.

Ketua PROFAUNA Indonesia Rosek Nursahid mengabarkan, mahasiswa lalu melapor kepada pihak berwajib atas temuannya itu. Mendapat laporan tersebut, Polhut KSDA resort Cagar Alam Pulau Sempu, Edi Kurnia dan Ranger PROFAUNA, Erik Yanuar yang ada di Pantai Sendang Biru langsung meluncur melakukan pengecekan.

"Waktu karapas ditemukan terdapat guratan-guratan benda tajam pada sisi bagian dalam karapas dan bekas sayatan pada.bagian tepi karapas," kata Erik, Kamis (16/8/2018).

Kata Erik, melihat dari kondisi karapas dengan ukuran panjang 68 cm tersebut, kuat dugaan bahwa guratan dan sayatan tersebut berasal dari penggunaan senjata tajam dalam upaya memisahkan karapas dengan anggota tubuh penyu yang lain. Ditemukannya karapas penyu itu menunjukan masih adanya penangkapan penyu di Pulau Sempu.

Padahal semua jenis penyu sudah dilindungi undang-undang. Pelaku penangkapan atau pembunuhan penyu bisa diancam dengan hukuman pidana penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

Catatan PROFAUNA Indonesia menunjukan memang Cagar Alam Pulau Sempu itu menjadi habitat penyu. Ada 3 jenis penyu yang ada di cagar alam ini yaitu penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang dan penyu sisik (Eretmocjelys imbricata).

"Pulau Sempu sebagai habitat penyu itu yang menjadi salah satu alasan PROFAUNA menolak adanya wisata di Pulau Sempu karena bisa mengganggu penyu, apalagi statusnya cagar alam yang memang secara hukum tidak boleh ada aktivitas wisata," kata Rosek Nursahid.

Dijelaskan Rosek, petugas masih menelusuri pelaku yang tega membunuh hewan dilindungi itu.

"Warga setempat atau bukan itu masih dalam penelusuran. Tetapi kalo penyunya itu dibunuh seperti itu biasanya kalau tidak diambil dagingnya, telurnya itu untuk dimakan. Jadi telurnya diambil dengan cara dibedah," papar Rosek.

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved